Skip to main content

Full text of "CONCISE QURAN DICTIONARY"

See other formats


JURUS JITU 



MENGHAFAL AL-QU'RAN 

Panduan Praktis Menghafal 
Al-Quran untuk Semua 



Oleh: 



Ust. Taufik Hamim Effendi, Lc, MA 



JURUS JITU MENGHAFAL ALQURAN 



H. Taufik Hamim EfFendi, Lc, MA 



Editor : H. Taufik Hamim Effendi, Lc, MA 

ASM. Romli 
Tata Letak : salsabila_gepe@yahoo.co.id 

— Bekasi: Muntada Ahlil Quran, 2009 
1 jil., 136 him., 12,5 x 19,5 cm 



Buku yang ada di hadapan Anda ini merupakan untaian 
penjelasan untuk bisa menghafal Al-Qur'an dengan mudah. 
Sehingga ia sangat layak untuk dibaca, dipelajari dan menjadi 
rujukan bagi siapa pun yang ingin menghafal Al-Quran. Bagi 
orang tua, buku ini sangat tepat sebagai pegangan dalam 
membimbing anak-anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran 
sejak usia dini, bagi seorang guru, buku ini bisa menjadi 
rujukan penting dalam mengajarkan anak-anak didiknya 
untuk bisa menghafal Al-Quran. 



mi 



a 



H. Taufik Hamim Effendi KH, Lc, MA orang 
Betawi asli Condet Jakarta Timur, kelahiran 
Jakarta 07 September 1973 dari pasangan 
Hamim Effendi dan Tasu'ah (almrh) adalah 
seorang Ustadz yang berangkat dari kultur 
keluarga Betawi relijius dan penghafal Al- 
Qur'an. 

Suami dari Marwiyah ini telah dikaruniai 2 orang putri dan 
3 orang putra, yakni Tsabitah(10 th), Farid Mamduh (7 th), 
Muhammad (6 th), Syahid (3 th), Aisyah (3 bulan). 

H. Taufik Hamim Effendi KH, Lc, MA elah menyelesaikan 
studinya di SI Fak. Syariah. LIPIA Jakarta (Cabang Universitas 
Islam Imam Muhammad Ibnu Su"ud Riyadh, Kerajaan Saudi 
Arabiah) dan S2 Universitas Islam As-Syafi"iyyah Jakarta. 

Aktivitas yang telah dan sedang beliau jalani antara lain: 

• Ma"had Bahasa Arab Daarul Uluum, Kuningan Jakarta 
Selatan, Tahun 1996-1998 

• Program Bahasa Arab Terpadu (PBAT) Al-Hikmah Bangka 
II Mampang Prapatan Jakarta Selatan Tahun 1999 



• Ma"had Al-Mubarok Pramuka Sari Jakarta Pusat, Tahun 
2000-2001 

• Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) IQRO" Pondok Gede 
Kota Bekasi Jawa Barat, Tahun 2000-2001 

• Ma"had Studi dan Dakwah Islam IQRO" Pondok Gede 
Kota Bekasi Jawa Barat Tahun 2000-2005 

• PendidikanGuruTamanKanak-kanak Islam IQRO" Pondok 
Gede Kota Bekasi Jawa Barat Tahun 2006-sekarang 

• Ma"had Studi Islam dan Bahasa Arab Utsman bin Affan 
Bambu Apus Cipayung Jakarta Timur Tahun 2002- 
sekarang 

• Ma"had Tarbiyah, Bintaro Jakarta Selatan Tahun 2008 

• Pengajar Bahasa Arab untuk Manager perusahaan 

• Salah seorang pendiri Yayasan Istiqomah Bina Umat, 
Jatimakmur Pondokgede, Kota Bekasi, Jawa Barat 

• Salah Seorang Pendiri Yayasan Muntada Ahlil Qur"an 
(The Quranic Community Forum) 

• Ketua Umum Muntada Ahlil Qur"an (The Quranic 
Community Forum) yang berkantor pusat di Jl. Raya 
Jatiwaringin No. 336 Jati Cempaka, Pondok Gede, Kota 
Bekasi, Jawa Barat - 17411, Telp. 021 - 7058 7271 

Beralamat di Jl. H. Kamin Rt. 001 Rw. 09 Jatimakmur Pondok 
Gede Kota Bekasi Jawa Barat. Nomor yang bisa dihubungi : 
021-71143283 / 085880716858. 

E-mail : ibnu_hekh@yahoo.com, taufik070973@yahoo.co.id, 
taufik_hamim@warnaislam.com ibnuhekh@gmail.com 

Website : www.taufikhamim.com 



i v %rm Qifu ~Menafiafetf Af- Quran 



Pada Perang Uhud, Rasulullah Saw kehilangan banyak para 
sahabatnya yang memiliki banyaka hafalan Al-Quran yang 
gugur sebagai syuhada di medan jihad itu. Menjelang perang 
berikutnya, Rasulullah Saw memerintahkan agar tidak semua 
umat Islam menjadi prajurit tempur di medan laga, namun 
harus ada sebagian yang khusus mendalami ilmu, tafaqquh 
fid-din, termasuk menghafal Al-Quran. Instruksi Rasulullah 
Saw itu berlandaskan wahyu: 

"Tidak sepatutnya bagi mu'minin itupergi semuanya . 
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka 
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka 

tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada 
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya 
mereka itu dapat menjaga dirinya". (Q.S. Al-Taubah/9 :122) 

Demikian pula pada masa kekhilafahan Abu Bakar As-Shiddiq 
r.a, tepatnya pada perang Yamamah, dimana sekitar tujuh 
puluh sahabat Rasulullah Saw, para penghafal Al-Quran gugur 
menjadi syuhada. Kemudian Abu Bakar r.a berinisiatif dan 
kemudian berdiskusi dengan para sahabat seperti Umar bin 
Khattab kemudian Utsman bin Affan dan AN bin Abi Thalib 



serta menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis 
wahyu untuk mengumpulkan Al-Quran dalam bentuk mushaf. 
Singkatnya, dengan mengumpulkan para penghafal Al-Quran 
dan dengan seleksi yang ketat akhirnya Al-Quran tahap demi 
tahap berhasil dikumpulkan dalam bentuk mushaf terutama 
di masa kekhilafahan Utsman bin Affan r.a. 

Kilasan sejarah Islam di atas hanyalah salah satu bukti, betapa 
para "penjaga ilmu Islam", termasuk di dalamnya penghafal 
Al-Quran -karena Al-Quran merupakan sumber utama 
ajaran Islam- menempati posisi mulia. Allah Swt memang 
menjamin, Dialah yang menjaga Al-Quran sebagaimana Dia 
pula yang menurunkannya sebagai pedoman hidup hamba- 
hamba-Nya. Namun, Allah juga memilih orang-orang 
khusus sebagai "khalifah"-Nya dalam menjaga kemurnian 
dan kemuliaan Kalam-Nya, yakni para penghafal Al-Quran 
(Huffazh). 

Penghafal Al-Quran merupakan orang-orang terpilih di 
antara hamba-hamba Allah Swt. Mereka ibarat pasukan 
elite dan khas, sebagai "pasukan khusus pengawal Al- 
Quran", dan tentu saja dengan imbahan kemuliaan, 
keberkahan, atau pahala yang "elite" dan "khas" pula. 
Allah menjamin tidak akan ada yang mampu memalsukan 
Al-Quran, bahkan satu ayat pun, sebagaimana tidak akan 
ada manusia dan jin yang mampu membuatnya. Jaminan 
Allah itu diberikan karena akan selalu hadir para penghafal 
Al-Quran dari zaman ke zaman. Kesalahan sedikit pun, 
disengaja ataupun tidak disengaja, akan langsung diketahui 
dan dikoreksi. 

Apakah kita tertarik menjadi anggota "pasukan khusus 
pengawal Quran" itu? Jika ya, buku jurus jitu menghafal Al 
Quran ini merupakan pilihan tepat sebagai panduan praktis, 
tahap demi tahap, untuk menjadi penghafal Al-Quran. 



vi 'Jurus Jitu Tvfenjfiafaf Af- Quran 



Materi buku ini merupakan kumpulan tanya-jawab atau 
konsultasi tahfizh di situs www.warnaislam.com. Atas usulan 
banyak pihak, artikel-artikel itu dikoleksi, diedit kembali, dan 
disusun sedemikian rupa sehingga dapat diterbitkan sebagai 
buku. 

Dalam buku ini ditegaskan, menghafal Al-Quran itu mudah, 
tidak susah. Allah Swt sendiri yang menegaskannya, berkali-kali. 
Jadi, siapa pun, dalam usia berapa pun, dapat dengan mudah 
menjadi seorang penghafal Al-Quran (Hafizh), asalkan mampu 
memenuhi syarat dan menjalani proses, tahapan demi tahapan, 
sebagaimana secara gamblang dikupas dalam buku ini. 

Semoga buku ini bermanfaat dan bernilai ibadah. Penulis 
haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah 
membantu penerbitan buku ini. Semoga semua jerih payah 
kita yang kita lakukan ini menjadi pemberat timbangan amal 
kita di hari yang tidak adalagi manfaat harta dan anak kecuali 
bagi orang yang medatangi Allah dengan hati yang bersih. 
Amien ya rabbal 'alamien. Wassalam 

Bekasi, Juni 2009 

H. Taufik Hamim Effendi, Lc, MA 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran vii 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Prof. Dr. H. Achmad Satori Isma'il 
Ketua Umum IKADI 

GENERASI Khairu Ummat telah merasakan nikmat dan 
indahnya hidup dalam naungan Al-Qur'an. Mereka meraih 
posisi itu didahului dengan adanya keyakinan yang mantap 
dan budaya amal shalih. 

Dengan bermodal kekuatan pegangan dan landasan filsafat 
hidup, yaitu berpegangteguh pada Al-Qur'an, maka seseorang 
akan mampu tampil tegar, jelas tempatnya, berpaling 
mundur bila tertumbuk, sigap dalam menentukan sikap, dan 
tidak akan diombang-ambingkan oleh ketidakpastian situasi. 
la tidak mudah terpengaruh oleh prinsip hidup lain karena 
prinsip dalam kepribadiannya sudah mantap dan jelas yang 
tercermin dalam menyelesaikan persoalan hidup. la juga 
punya cara dan usaha tertentu dalam menembus blokade 
hambatan. 

Umar Ibnu al-Khattab meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw 
bersabda: 



"Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur'an ini telah mengangkat 
(derajat) suatu bangsa dan dengan Al-Qur'an inipulalah 
Allah akan menjatuhkan bangsa lainnya."(H.R. Muslim) 

Abu Hurairah r.a. berkata: 

"Rumah yang di dalamnya dibaca Al-Qur'an berkahnya 
sangat banyak, malaikat masuk/hadir dan syaitan pun keluar. 
Rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur'an di dalamnya 
sangat sempit bagi penghuninya, tidak ada berkah, syeithan 
pun masuk/hadir dan malaikat keluar." 

Para As-Salafusshalih merasakan hal itu karena keoptimalan 
mereka berinteraksi dengan Al-Qur'an -tilawah, tadabur, 
hifzh, sekaligus mengamalkannya. Oleh karena itu, supaya 
bisa merasakan nikmat dan indahnya hidup dalam naungan 
Al-Qur'an, kita pun harus secara optimal berinteraksi dengan 
Al-Qur'an . 

ADA empat macam upaya optimalisasi dalam berinteraksi 
dengan Al-Qur'an. 

1. Tilawah (Membacanya). 

Disunnahkan memperbanyak bacaan atau tilawah 
Al-Qur'an. Allah memuji orang yang senantiasa 
melakukannya. 

" mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa 

waktu di malam hari..." (Q.S. Ali Imran/3 : 113) 

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a : 

" Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal: 
seseorang yang diberi oleh Allah (penguasaan yang baik 
tentang) Al-Qur'an kemudian ia mengamalkannya siang 
dan malam hari dan seseorang yang diberi oleh Allah harta 
kemudian ia menginfakkannya siang dan malam hari." 



x %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



2 . Tadabbur (Menela'ahnya). 

Kita dianjurkan untuk mentadaburi Al-Qur'an sebagai 
tindak lanjut dari apa yang telah kita baca. Dengan 
tadabbur, kita akan dapat lebih memahami kegungan 
dan keindaan dari kalamullah ini. 

"Apakah tidak kau perhatikan (tadabburi) Al-Quran ataukah 
hati kamu telah terkunci?" (Q.S. Muhammad/48 : 24) 

3 . Hifzh (Menghafalkannya) 

Para penghafal Al-Quran adalah orang-orangyangdipilih 
oleh Allah sepanjang sejarah kehidupan manusia karena 
melalui merekalah Allah menjaga kemurnian Al-Quran. 

"Sesungguhnya telah kami turunkan Adz-Dzikir (Al-Quran) 
dan kamilah yang menjaganya" (Q.S. Al-Hijr/15 : 9) 

Banyak sekali keutamaan bagi para penghafal Al-Quran, 
di antaranya adalah sebagaimana ditegaskan Rasulullah 
Saw, ketika beliau mengumpulkan di antara dua orang 
syuhada Uhud, kemudian beliau bersabda : 

"manakah di antara keduanya yang lebih banyak 
menghafal Al-Quran?" Ketika ditunjuk salah satunya, 
maka beliau mendahulukan pemakamannya" (H.R. 
Bukhari) 

4 . AI-'Amalu bihi (Mengamalkannya). 

Mengamalkan Al-Qur'an merupakan wujud nyata 
pemahamanseorangmukmin. Rasulullah Saw merupakan 
uswah (teladan) paling ideal dalam mengamalkan Al- 
Qur'an. Ketika Siti 'Aisyah r.a ditanya sahabat tentang 
akhlaq Rasulullah Saw jawabannya : 

"Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an" 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran xi 



Buku yang ada di hadapan Anda ini merupakan untaian 
penjelasan untuk bisa menghafal Al-Qur'an dengan mudah. 
Sehingga ia sangat layak untuk dibaca, dipelajari dan menjadi 
rujukan bagi siapa pun yang ingin menghafal Al-Qur'an. Bagi 
orang tua, buku ini sangat tepat sebagai pegangan dalam 
membimbing anak-anaknya untuk bisa menghafal Al-Quran 
sejak usia dini, bagi seorang guru, buku ini bisa menjadi 
rujukan penting dalam mengajarkan anak-anak didiknya 
untuk bisa menghafal Al-Quran. 

Semoga bermanfaat dan menjadi amal kebajikan bagi penulis 
dan para pembacanya. Amin! 



Jakarta, Juni 2009 



Prof. Dr. H. Achmad Satori Isma'il 
Ketua Umum I KADI 



xii Qurus Qifu TAena^afafAf-Quran 



Cerita Sukses Ibu Fatimah 45 

Kisah Ibu Maryam 46 

Cerita Pak Amir (bukan nama sebenarnya) 47 
Belajar dan Menghafal Al-Quran Sendiri, Mungkinkah? 51 

Doa Qunut, Sunah atau Bid'ah? 55 

Hadits yang Mendasari Qunut Shubuh 58 

Pendapat yang Tidak Mendukung Qunut 59 

Tidak Pernah Tuntas 61 
Belajar Al-Quran: Bahasa Arab Bahasa Penghuni Sorga? 63 

Bahasa Penghuni Sorga 67 

Belajar Al-Qur'an dari CD 68 

Basmalah, Ayat Fatihah atau Bukan? 69 

Basmalah Dibaca Jahar 71 

Menjaga Hafalan Agar Tidak Cepat Hilang 75 

Umur 66 Tahun Bisa Hafal Qur'an? 81 

Cara Tepat Mengajari Anak Hafal Al-Qur'an 85 

Kiat Mengajar Anak Tahfizh dalam Target 89 

Jangan Tergesa-gesa 91 

Menghafal Surat Pendek 92 

Buat Target 92 

Tahfizh Untuk Anak Empat Tahun 95 

Metode bagiAnak Usia 4 Tahun 97 

Guru Lebih Disukai daripada Orangtua 99 



xiv %rm Oitu ~Menjfiafetf Af- Quran 



Menghafal Quran Susah Banget 101 

Kiat Menghafal Surat-Surat Pendek 107 

Urgensi Mempelajari Bahasa Arab 111 

Orang Arab Belajar Sama Non-Arab 114 

Bahasa Arab Itu Mudah 115 

Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab 116 



Ourus Oitu 'MenjLfafAf-Quran 



xvi %rus Oitu Tvfenc/fiafaf Af- Quran 



"Dan apabila seorang penghafal Al-Qur'an 
mendirikan shalat kemudian dia membacanya 
siang dan malam hari; maka dia akan 
selalu mengingatnya, dan apabila dia tidak 
melakukannya maka dia akan melupakannya" 
(H.R. Muslim). 




Banyak ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi yang berisi anjuran 
untuk membaca Al-Qur'an dan menghafalnya, juga 
berisikan penjelasan tentang kedudukan agung yang hanya 
diberikan kepada para penghafal Al-Qur'an dan senantiasa 
mengamalkannya. 

Oleh karenanya, para sahabat yang mulia dan para 
Salafusshalih, dari satu generasi ke generasi berikutnya, 
selalu berlomba-lomba dalam menghafal Al-Qur'an. 
Mereka juga senantiasa memiliki kesungguhan yang tinggi 
dalam mendidik anak-anak mereka agar menjadi penikmat 
hidangan Al-Qur'an, baik dalam mempelajarinya maupun 
menghafalkannya dengan hafalan yang baik dan tajwid yang 
benar, termasuk mentadaburi kandungannya berupa janji 
dan ancaman. 

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullahu berkata: "Dahulu 
para ulama Salaf memberikan wasiat untuk selalu baik dalam 
mengamalkan Al-Qur'an, bukan hanya sekadar banyak dalam 
membacanya, karena sesungguhnya pengamalan yang sedikit 
tetapi baik itu lebih utama dari pengamalan yang banyak 
tetapi tidak baik". 

s?° Beberapa Tips Menghafal Al-Quran 



Banyak sekali tips untuk menghafalkan Al-Qur'an yang telah 
dituliskan oleh para ulama, di antaranya: 

1. Ikhlas sebagai kunci ilmu dan pemahaman. 

Jadikan maksud dan tujuan kita dalam menghafal sebagai 
bentuk taqarrub kepada Allah SWT. Hadirkan pada diri 
kita bahwa yang sedang kita baca adalah Kalamullah Azza 
wa Jalla. Waspadalah, motivasi kita dalam menghafal 
bukanlah untuk mendapatkan kedudukan di tengah- 
tengah masyarakat atau untuk mendapatkan penghasilan 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran 3 



dunia, upah, dan hadiah, melainkan karena Allah SWT 
semata. Allah SWT tidak akan menerima amal kecuali 
amal itu dikerjakan secara ikhlas untuk-Nya semata. 

Menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa. 

Hati yang diselimuti oleh kemaksiatan dan disibukan 
dengan serbuan syahwat dunia tidak akan mendapatkan 
porsi cahaya Al-Qur'an. Kemaksiatan akan menjadi 
penghalang dalam menghafal Al-Qur'an. Ibnu Mubarak 
rahimahullah berkata : 

Aku melihat dosa-dosa itu akan mematikan hati 

Selalu melakukan dosa akan mewariskan kehinaan 

Meninggalkan dosa merupakan hidupnya hati 

Baik bagi dirimu bilamana meninggalkannya 

Dikisahkan, suatu hari Imam Syafi'i rahimahullah yang 
memiliki kecepatan dalam menghafal mengadu kepada 
gurunya, Waki', karena mengalami kelambatan dalam 
menghafal. Waki' lalu memberikan obat mujarab, yaitu 
dengan nasihat agar dia meninggalkan perbuatan maksiat 
dan mengosongkan hati dari setiap penghalang antara 
dia dan Tuhan. Imam Syafi'i rahimahullah berkata: 

Aku mengadu kepada (guruku) Waki' atas buruknya 
hafalanku 

Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan 
kemaksiatan 

Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya 

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang 
yang selalu bermaksiat. 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Barangsiapa memiliki kesungguhan untuk menjauhi 
kemaksiatan, maka Allah Azza wa Jalla akan membukakan 
hatinya untuk mengingat-Nya, membimbingnya dalam 
mentadaburi ayat-ayat kitab-Nya, memberikan kemudahan 
dalam menghafal dan mempelajarinya. 

3. Memanfaatkan masa kanak-kanak dan masa muda. 

Anak kecil memiliki banyak waktu luang. Ahnaf bin 
Qais meriwayatkan, dia pernah mendengar seseorang 
berkata: 

"Belajar waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu". 
Maka Ahnaf pun berkomentar: 

"Orang dewasa itu lebih pandai, akan tetapi hatinya lebih 
sibuk". 

Namun demikian, orang yang masa mudanya telah 
berlalujangan sampaimerasatidak memiliki kesempatan 
dan merasa lemah dalam menghafal. Sebabnya, bila 
dia kosongkan hatinya dari segala kesibukan dan 
kegundahan, maka dia akan mendapatkan kemudahan 
dalam menghafal Al-Qur'an. Allah ta'ala berfirman : 

"Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran 
untuk pelajar an. Maka adakah orang yang mengambil 
pelajaran?" (Q.S. Al-Qamar/54 -.17) 

Ketika seseorang beranjak dewasa, penglihatannya akan 
melemah. Tekadang dia tidakmampumembaca Al-Qur'an 
dari mushaf. Saat dewasa itulah dia akan mendapatkan 
yang telah dihafalnya. Simpanan hafalan dalam dadanya 
itu akan dibaca dan dinikmat dalam tahajudnya. Jika dia 
tidak mengingat sedikit pun yang telah dihafalnya, maka 
betapa besar penyesalannya. 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran 5 



Memanfaatkan waktu giat dan senggang. 

Tidaklayakmenghafalwaktulelahdanmembosankan, atau 
ketika pikiran sibuk dalam suatu perkara, karena semua itu 
akan menghalangi konsentrasi dalam menghafal. Pilihlah 
waktu giat dan keadaan pikiran sedang tenang. Alangkah 
baik menghafal dilakukan setelah Shalat Fajar (Subuh) 
karena lebih banyak manfaatnya, terlebih bagi orang yang 
tidur malam lebih awal. 

Menggunakan waktu-waktu giat sangat penting. Kita 
harus mengetahui kapan diri kita bangkit untuk bekerja 
dan kapan beristirahat. 

Bila datang kesempatanmu, maka pergunakanlah ia 
sebaik-baiknya 

Karena akhir setiap yang bergerak adalah ketenangan 

Jangan kamu lalai melakukan kebaikan saat ada 
kesempatan 

Karena kamu tidak tahu kapan ketenangan (kesempatan ) 
itu akan kembali 

Di antara keindahan lantunan bait syair Imam Syafi'i 
agar kita menggunakan kesempatan untuk bergegas 
melakukan ketaatan adalah : 

Bila orang-orang mulai terlelap tidur, aku pun menangis 

Dan aku lantukan di antara bait syair yang terindah 

Bukankah kerugian itu adalah malam-malam yang berlalu 

Berlalu tanpa dilalui menuntut ilmu dan akan dihisab 
umurku? 



Jumsjifu "MmjfiafafAf-Clumn 



5. Memilih tempat yang tepat. 

Jauhitempat-tempatbisingdankeramaianagarkitadapat 
berkonsentrasi. Sebaik-baik tempat untuk menghafal Al- 
Qur'anul Karim adalah rumah-rumah Allah (masjid) agar 
mendapatkan pahala berlipat ganda. 

6. Motivasi diri dan tekad yang benar. 

Keinginan yang kuat dan benar akan memberikan 
pengaruh yang besar dalam menguatkan, memudahkan, 
dan berkonsntrasi dalam menghafal. Orang yang 
menghafal di bawah pengaruh tekanan kedua 
orangtuanya atau gurunya, tanpa timbul motivasi dari 
dalam dirinya, maka hal itu tidak akan berlangsung lama 
dan pasti akan mengalami masa futur (lemah semangat) 
yang berat. 

Motivasi diri dan tekad yang benar akan bertambah 
dengan adanya penyemangat yang berkesinambungan, 
penjelasan tentang ganjaran dan kedudukan yang mulia 
bagi para penghafal Al-Qur'anul Karim dan majelis Al- 
Qur'an, serta adanya pengobaran semangat berlomba 
dalam halaqah Qur'an, rumah, atau sekolah. 

Tekad yang benar dengan sendirinya akan menghilangkan 
bisikan-bisikan setan. Nafsu ammarah (jiwa penyuruh 
keburukan) pun akan sirna. Imam Ibnu Rajab Al-Hambali 
rahimahullah berkata: 

"Barangsiapa memiliki tekad yang benar, maka setan 
akan berputus asa darinya, dan bila mana seorang 
hamba tidak teguh pendiriannya, maka setan akan selalu 
mengganggunya dan menjanjikan angan-angan yang 
terlalu jauh". 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran 7 



Imam Ibnu Al-Jauzi rahimahullah bercerita tentang 
dirinya: 

"Aku pernah merasakan manisnya dalam menuntut ilmu, 
aku pun menjumpai berbagai ujian yang menurutku lebih 
manis daripada madu dikarenakan aku menginginkan 
yang aku harapkan". 

7. Memfungsikan semua indera. 

Kemampuan satu orang dengan lainnya pasti 
berbeda, apalagi dalam menghafal Al-Quran. Namun, 
menggunakan semua pancaindera secara optimal akan 
memberikan kemudahan untuk menyimpan hafalan 
secara baik dalam ingatan. 

Dalam proses menghafal Al-Quran ini, hendaknya kita 
dapat menfungsikan indera penglihatan, pendengaran, 
dan ucapan. Setiap indera kita memiliki jalan yang akan 
menyampaikannya kepada otak. Apabila cara yang 
dilakukan beraneka ragam, maka akan menghasilkan 
hafalan yang kuat dan mantap. 

Kita bisa memulainya dengan membaca ayat yang akan kita 
hafal secara jahriyah (bersuara). Kita harus melihat dengan 
teliti halaman yang kita baca, serta mengulang-ngulannya, 
sampai halaman mushaf terekam dalam ingatan. 

Hendaknya pendengaran kita gunakan dalam membaca 
sehingga terasa nyaman, khususnya bila kita membacanya 
dengan lagu yang indah. 

Hindari cara-cara menghafal yang keliru, misalnya 
melihat mushaf dengan tidak bersuara, mendengarkan 
kaset Al-Qur'an tanpa melihat mushaf, atau merasa 
cukup dengan suara bacaan yang pelan. 



8 



Jumsjifu "MmjfiafafAf-Clumn 



8. Menggunakan satu cetakan mushaf. 

Pilihlah cetakan Mushaf Huffazh, yaitu mushaf yang tiap 
awal halamannya diawali ayat baru dan di halaman itu 
pula berakhir ayat sesudahnya. Ini akan memberikan 
pengaruh cukup besar kepada kita dalam memberikan 
gambaran bentuk dan letak halaman dalam ingatan. Juga 
kita akan kembali terfokus ketika melakukan murajaah 
(mengulang hafalan). 

Bila cetakan mushaf yang digunakan berubah-ubah, 
maka akan memberikan gambaran yang berbeda 
di dalam ingatan. Kita tidak akan dapat konsentrasi 
sehingga membuyarkan hafalan yang ada. 

Jangan lupa untuk menggunakan mushaf saku atau 
mushaf yang dicetak per juz yang selaras dengan 
cetakan mushaf yang digunakan selama ini. Jadikan 
mushaf saku itu selalu bersama kita, di mana pun kita 
berada. Dengan mushaf tersebut kita dapat segera 
memanfaatkan waktu yang ada untuk hafalan baru 
atau mengulang hafalan yang ada. 

9. Bacaan yang baik dan benar. 

Sebelum mulai menghafal, kita harus membenahi bacaan 
terlebih dulu dengan merujuk kepada salah seorang guru 
yang memiliki bacaan yang baik dan benar. Bisa juga 
dengan mendengarkan potongan surat/ayat yang akan 
kita hafal, dengan suara salah seorang qari dari dari MP3 
atau sejenisnya. 

Bacaan yang baik dan benar itu diperlukan agar kita tidak 
jatuh kepada kesalahan dalam menghafal. Jika dalam 
proses menghafal kita salah membaca, maka kita akan 
mendapatkan kesulitan dalam memperbaikinya setelah 
melekat dalam ingatan. 



Oitu 'MenjLfafAf-Quran 9 



Imam Munada rahimahullah berkata: 

"Ketahuilah bahwa menghafal itu ada beberapa cara, di 
antaranya adalah seseorang dapat membaca di hadapan 
orang yang lebih baik hafalannya, karena orangyang 
baik hafalannya lebih peka terhadap kesalahan orang 
yang membaca di hadapannya dibandingkan si pembaca 
tersebut terhadap kesalahannya sendiri saat membaca 
hafalan". 

Dengan demikian, kita hams berusaha untuk ikut talaqqi 
Al-Qur'an secara musyafahah (berhadapan langsung) 
dengan para penghafal Al-Qur'an atau para syaikh yang 
baik bacaannya, agar nantinya kita akan terhindar dari 
kesalahan dalam membaca. 

Guru-guru Al-Quran tentu akan sangat memperhatikan 
perbaikan bacaan ayat-ayat yang akan dihafal oleh 
para muridnya. Mereka juga akan selalu membimbing 
muridnya untuk memperbaiki kata-kata yang sering salah 
baca, yaitu dengan menugasi mereka agar mengulang 
hafalannya di hadapan kawan-kawan untuk menghindari 
berbagai kesalahan pada saat menghafal. 

10. Hafalan yang saling berikatan. 

Jangan lupa, hafalan kita harus saling berikatan. Setiap 
kali kita menghafal satu ayat dengan baik, hendaknya 
kita mengulanginya dengan kembali membaca ayat 
sebelumnya yang telah kita hafal, setelah itu barulah 
pindah ke ayat-ayat berikutnya. 

Usahakan, setelah kita menyelesaikan hafalan surat 
tertentu, jangan dulu tidak beranjak ke surat lainnya, 
sebelum kita yakin bahwa ayat-ayat yang telah kita 
hafalkan sudah benar-benar melekat di memori kita. 



10 OurusOitu Tvfem/Lfafftf-Qu 



11. Memahami makna ayat yang dihafal. 

Di antara hal yang dapat membantu mengikat ayat-ayat 
yang dihafal dan memudahkan dalam proses menghafal 
adalah sesekali merujuk kepada beberapa kitab tafsir 
yang disusun secara ringkas. Hal itu agar kita dapat 
memahami ayat-ayat tersebut, walaupun secara global. 

Tentunya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh mereka 
yang sudah menguasai bahasa Arab dengan baik. 
Tapi bagi mereka yang belum menguasainya, bisa 
juga menggunakan Mushaf terjemahan. Pemahaman 
makna ayat/surat akan banyak membantu kita dalam 
menghafal. 

12. Hafalan yang baik: jangan tergesa-gesa. 

Ketika kita ingin memulai menghafal Al-Quran, usahakan 
jangan tergesa-gesa ingin cepat hafal ayat atau surat 
yang baru satu atau dua kali kita baca. Hafalan yang baik 
akan didapatkan dengan cara membaca berulang kali 
ayat-ayat yang akan kita hafal. Paling tidak, kita dapat 
membacanya minimal tujuh kali. Setelah kita merasakan 
ayat-ayat yang baru saja kita baca tadi telah melekat di 
dalam memori kita, barulah kita boleh pindah ke ayat 
berikutnya. 

Banyak santri atau orang yang sedang menghafal Al- 
Quran, setelah membaca dua sampai tiga kali ayat yang 
akan dihafalnya, merasa sudah hafal. Setelah itu, ia pun 
mencoba pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera 
menghafal ayat lain. Mungkin, hal itu terjadi karena 
adanya persaingan, para santri pun berlomba, atau sang 
guru membebaninya dengan hafalan dan target-target 
yang memberatkan. 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 11 



Hal demikian sebenarnya tidak dapat dibenarkan 
dalam proses menghafal Al-Quran yang baik. Cara 
menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil 
yang memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik 
daripada banyak tetapi terputus. Menghafal dengan 
tergesa-gesa akan mengakibatkan cepat lupa. 

Terkadang yang menjadi penyebab fenomena tersebut 
adalah merasa puas dengan dirinya dan terperdaya akan 
hal itu --merasa cukup dengan membaca beberapa kali 
ayat/surat yang akan dihafal. 

13. Memiliki bacaan yang berkesinambungan. 

Hendaknya kita segera membaca Al-Qur'an ketika 
kesempatan itu datang. Sering membaca Al-Qur'an akan 
mempermudah dan melekatkan hafalan dalam memori 
kita. Bacaan yang banyak itu termasuk di antara metode 
paling mendasar dalam mengulang-ngulang hafalan. 

Ayat/surat yang banyak kita baca dan perdengarkan 
kepada orang lain, akan dapat membantu kita dalam 
menghafal dan kita tidak perlu lagi bersusah-payah 
menghafalnya. Saat menghafal, ketika kita sampai 
pada ayat-ayat yang sering dibaca itu, maka kita akan 
melaluinya dengan mudah. 

Kita ambil contoh, Surat yasin, Al-Waqi'ah, Al-Mulk, 
dan ayat-ayat terakhir dalam surat Al-Furqan, terlebih 
lagi surat-surat terdapat dalam Juz 'Amma dan ayat- 
ayat terakhir dalam surat Al-Baqarah yang sering dibaca 
banyak orang, akan lebih mudah kita hafal karena kita 
sering membaca dan mendengarnya dari orang lain. 

Dari sini akan terlihat perbedaan yang amat mencolok 
antara orang yang memiliki wirid Al-Quran (tilawah 



1 2 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



harian) dengan yang tidak memilikinya. Bila kita terbiasa 
membacaAI-Qur'ansetiaphari,secaraberkesinambungan 
dan dengan target tertentu, kita akan dapat menghafal 
Al-Quran dengan mudah. Kita akan sering dapati, ayat/ 
surat yang akan kita hafal seakan-akan sudah pernah kita 
dihafal. Kita akan sulit menghafal jika kita jarang atau 
sedikit membaca Al-Quran dan tidak memiliki target 
tertentu setiap harinya. 

Jangan lupa, membaca Al-Qur'an itu ibadah dan bentuk 
taqarrub kepada Allah SWT. Setiap ayat yang kita baca 
bernilai satu pahala yang dilipatgandakan menjadi 
sepuluh kali lipat. 

14. Kuatkan hafalan dalam shalat. 

Banyak membaca surat-surat yang pernah kita hafal akan 
dapat menguatkan dan melekatkan hafalan dalam memori, 
khususnya dalam shalat. Oleh karenanya, hendaknya 
kita selalu bersungguh-sunguh mengulang-ngulang 
hafalan dengan membacanya di dalam shalat. Kita dapat 
melakukan hal itu dalam shalat tahujud beberapa rakaat. 

Rasulullah SAW sebagai qudwah, pemberi petunjuk 
dan pemberi kabar gembira, telah mengajarkan cara 
demikian. Cara itu juga pernah dilalui oleh orang-orang 
shalih sehingga hafalan Al-Qur'an mereka kuat, tidak 
mudah lupa. Rasulullah SAW bersabda : 

"Dan apabila seorang penghafal Al-Qur'an mendirikan 
shalat kemudian dia membacanya siang dan malam 
hari; maka dia akan selalu mengingatnya, dan apabila 
dia tidak melakukannya maka dia akan melupakannya" 
(H.R. Muslim). 



Jurus Jifu TrfenjLfafAf-Cluran 13 



15. Menghafal sendiri sedikit manfaatnya. 

Barangkali ada kebiasaan buruk pada diri kita, yaitu 
suka menunda pekerjaan; mengatakan "nanti" setiap 
kali terlintas pada diri kita untuk segera menghafal. Saat 
kesibukan menghadang, kita pun menundanya. Lebih 
buruk lagi, tekad kita akan cepat melemah. 

Karenanya, hindari menghafal sendirian. Menghafallah 
bersama-sama seorang kawan. Dengan begitu, kita pun 
akan dapat membuat perencanaan dan satu sama lain 
akan saling membantu, saling berlomba satu sama lain, 
juga saling mengingatkan bila terjadi kesalahan dalam 
membaca dan menghafal. 

Beta pa banyak peserta halaqah tahfizh Al-Quran di masjid, 
mushalla, di rumah, dan sebagainya telah menghafal 
beberapa juz. Karena kesibukannya, mereka tidak dapat 
menghadiri halaqah-halaqah tersebut. Mereka pun 
mengiramampumenghafalsecaraindividudantidakbutuh 
lagi hadir dalam halaqah. Celakanya, semangat mereka 
terlihat melemah dan akhirnya berhenti menghafal. 

Yang lebih parah lagi, terkadang mereka disibukkan 
oleh urusan dan pekerjaan yang membuat mereka 
meninggalkan murajaah hafalan yang lalu mereka hafal. 
Demikianlah, hari demi hari berlalu dan mereka lupa 
semua yang mereka pernah hafalkan. Mereka menyia- 
nyiakan semua yang pernah mereka raih. 

Menghafal sendiri, tanpa bimbingan seorang guru, juga 
akan dihadapkan pada kesalahan saat mengucapkan 
ayat-ayat Al-Qur'an. Memang, tanpa disadari, kesalahan 
itu akan terus berlangsung dalam tempo yang lama. 
Namun, ketika dia memperdengarkan hafalannya di 
hadapan peserta lainnya atau di hadapan gurunya, maka 
kesalahan tersebut akan nampak jelas. 

Oleh karena itu, kita dapat memilih dan mengajak 
beberapa teman, peserta halaqat tahfizh, atau saudara 



14 OurusOitu 'MenjLfafAf-Qu 



yang kita cintai karena Allah SWT, untuk sama-sama 
menghafal Al-Qur'an. Kita bisa saling mengoreksi dan 
melakukan murajaah hafalan. 

16. Teliti dalam membaca ayat-ayat yang mirip. 

Penting sekali memperhatikan ayat-ayat yang mirip pada 
beberapa lafazh dan membadingkan letak kemiripannya. 
Bagus sekali, jika sedang menghafal, kita menuliskan 
ayat-ayat yang mirip, dengan harapan agar kita dapat 
menghadirkan letak ayat yang mirip saat murajaah. 

Kalau kita amati, sebagian peserta halaqat tahfizh tidak 
memperhatikan letak ayat-ayat yang mirip. Mereka pun 
mengalami kesalahan saat tasmi' (memperdengarkan) 
hafalan. Kemiripan satu ayat dengan ayat lainnya akan 
dapat mengganggu konsentrasi. 

Tanpa kita sadari, bisa jadi mereka akan berpindah 
ke surat berikutnya. Terkadang saat tasmi' kita akan 
"nyasar" dan berpindah ke surat atau ayat lainnya karena 
ada beberapa ayat yang mirip. 

Oleh karena itu, kita harus lebih fokus pada ayat-ayat 
yang mirip, mengamatinya, dan ada perhatian lebih 
terhadapnya. Perhatikan ungkapan salah seorang 
ulama: 

"Sesungguhnya mengenal letak ayat yang mirip akan 
memberikan kemudahan dalam menguatkan hafalan 
seorang penghafal dan melatih peserta halaqat tahfizh. Ada 
satu kelompok Qurra (para qari'/ahli qiraat) yang menulis 
jenis ini dan mereka menjulukinya dengan sebutan Al- 
Mutasyabih sebagai jawaban dari buruknya hafalan". 

Mudah-mudahan, tips menghafal Al-Qur'an di atas dapat 
membantu kita dalam menghafal Kalamullah. Amin! Allahu 
a'lam bish-shawab.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 15 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Belajar & Menghafal 
Al-Quran di Luar Negeri *° 

(Setoran Hafalan Quran Online) 



Kami tinggal di luar negeri, tapi tinggal di kota yang 
alhamdulillah ada masyarakat Indonesianya juga. 
Yang ingin saya tanyakan: 

1. Bisakah saya belajar dan menghafal Al-Quran 
melalui seorang guru, sedangkan lokasi tempat 
tinggal saya bukan di Indonesia. Apakah 
memungkinkan jika belajar dan setor hafalannya 
secara online? 

2. Bagaimana caranya agarsaat kita mengajarkan Al- 
Quran pada anak-anak, mereka lebih termotivasi 
untuk membaca Al-Quran, bukan hanya sekadar 
kewajiban atau keharusan dari orangtuanya? 



Sebelum orang lain, ayah atau ibu adalah 

I guru terbaik untuk mendidik anak-anaknya, 

| termasuk dalam hal mengajarkan bacaaan dan 

I hafalan Al-Qur'an. Oleh sebab itu, kita harus 

1 memulainya dari diri kita sebagai orangtua. 

I Kalau anak-anak sering melihat kita berinteraksi 

|| dengan Al-Qur'an, khususnya membaca dan 

I menghafalnya, maka kita tidak akan banyak 

P mengalami kesulitan dalam memotivasi minat 

| sang buah hati untuk mencintai Al-Qur'an. 



Subhanallah. Kalimat itulah yang saya ucapkan ketika 
membaca isi pertanyaan Anda. Alhamdulillah, dengan karunia 
dan rahmat-Nya, sejalan dengan kemajuan zaman, terutama 
dalam hal teknologi internet yang begitu canggih, kini banyak 
umat Islam yang sadar akan manfaat teknologi. 

Teknologi itu ibarat sebuah pisau. Kalau dipegang oleh ibu 
rumah tangga, maka sang ibu akan menggunakannya untuk 
mengiris cabe, bawang, dan yang sejenisnya untuk meramu 
bumbu masakan sehingga masakan pun nikmat saat disantap. 
Namun, kalau pisau dipegang oleh seorang penjahat, maka 
sang penjahat akan menggunakannya untuk kejahatan, 
menodong, bahkan membunuh. 

Demikian halnya dengan teknologi internet ini, banyak sekali 
manfaatnya. Namun, internet juga banyak mudharatnya, 
tergantung pada siapa yang menggunakannya dan untuk apa 
digunakan. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang dapat 
memafaatkan teknologi internet ini secara baik sehingga 
waktu yang kita habiskan dalam nge-net bernilai ibadah. 

Berkat teknologi internet ini pula, tidak ada halangan bagi 
Anda atau siapa saja yang ingin belajar membaca atau 
menghafal Al-Qur'an, khususnya secara online. 



ay Setoran Hafalan Al-Quran Online 



Alhamdulillah, sebenarnya kami sudah memulai pengajaran 
Al-Qur'an secara online, baik untuk belajar membaca maupun 
setoran hafalan. Ada beberapa teman lama dan teman hasil 
silaturrahim via chatingan yang sudah memulainya. 

Untuk bisa belajar Al-Qur'an secara online, kami akan 
sediakan waktu khusus, terutama malam hari. Selain tidak 
banyak aktivitas yang menyita tenaga, malam hari juga 
biasanya adalah waktu santai bagi mereka yang seharian 
penuh beraktivitas di siang hari. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 19 



Tapi ketika setoran hafalan nanti, pastikan, Anda tidak 
melihat mushaf Al-Qur'an. Kalau Anda belajar tahsin tilawah 
(memperbaiki bacaan), tentu Anda harus melihat mushaf, 
tidak boleh tidak. 

Bagi Anda yang ingin belajar Al-Qur'an secara online dan 
sudah terdaftar di Yahoo Messanger, Anda bisa meng-add e- 
mail: ibnu_hekh@yahoo.com. Kalaupun pada akhirnya nanti 
banyak saudara-saudara kita yang berminat dalam program 
ini, maka tidak sedikit kawan-kawan kami, para penghafal Al- 
Qur'an, yang tergabung dalam Komunitas Penghafal Al-Qur'an 
(Muntada Ahlil Qur'an /The Quranic Community Forum) yang 
siap membimbing kaum Muslimin, baik di dalam maupun di 
luar negeri, sesuai dengan kesiapan waktu mereka. 

Memotivasi Anak Menghafal Al-Quran 



Sebelum menikah, tentunya kita sudah memiliki visi ke depan 
untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, 
juga mempersiapkan generasi Qur'ani, yakni generasi pecinta 
Al-Qur'an. 

Setelah kita menikah, tentunya setiap kita berharap kepada 
Allah SWT agar mendapatkan keturunan yang shalih yang 
selalu mendoakan kedua orangtuanya, baikyang masih hidup 
maupun yang telah dipanggil Allah SWT. 

Sebelum orang lain, ayah atau ibu adalah guru terbaik untuk 
mendidik anak-anaknya, termasuk dalam hal mengajarkan 
bacaaan dan hafalan Al-Qur'an. Oleh sebab itu, kita harus 
memulainya dari diri kita sebagai orangtua. Kalau anak-anak 
sering melihat kita berinteraksi dengan Al-Qur'an, khususnya 
membaca dan menghafalnya, maka kita tidak akan banyak 
mengalami kesulitan dalam memotivasi minat sang buah hati 
untuk mencintai Al-Qur'an. 



20 Oma Oifu TAenyUfal Af-Qu 



Selain itu, kita juga hams menfasilitasi mereka dengan 
berbagai macam sarana dan alat peraga yang berkaitan 
dengan pembelajar tahfizh Al-Qur'an, seperti kaset-kaset 
pengajian, VCD/DVD player, MP3/MP4, atau apa saja yang 
dapat menumbuhkan rasa cinta dan minat mereka dalam 
dalam menghafal Al-Qur'an. 

Namun, kita pun harus berusaha agar tidak ada kesan 
memaksa anak-anak kita untuk menghafal. Biarkan kemauan 
itu nanti yang akan muncul sendiri dari diri mereka. Kalau 
perlu, berikan mereka reward yang pantas, sebagai motivasi 
dan perangsang ketika mereka mencapai target tertentu. 

Demikian, semoga jawaban singkat di atas dapat menjadi 
masukan dan pencerahan kepada Anda dan kita semua, 
para pecinta Al-Qur'an. Akhirnya, setelah kita berusaha 
dan berdoa kepada Allah SWT, maka hanya kepada-Nya kita 
bertawakal. Wallahul Musta'an.* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 21 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



TaUizkQ ura 11 

untuk Anak 
Usia6-8Ta llll 11 



SO 



Bagaimana cara atau metode menghafal Al-Qur'an 
yangsesuai untuk anak-anak usia 6-8 tahun? 



3 



Kalau kita membaca kitab-kitab klasik 
berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita 
tentang para ulamayang berhasil menghafal 
Al-Quran pada usia sebelum mencapai sepuluh 
tahun. Imam Syafi'i rahimahullahu misalnya. 
Peletak Madzhab Asy-Sayfi'iyyah ini berhasil 
menghafal Al-Quran 30 juz pada usia tujuh 
tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa 
kitab, di antaranya Tafsir Jalalain dan TafsirAl- 
Durrul Mantsur, hafal Al-Quran 30 juz pada 
saat usianya belum genap delapan tahun. 



Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam mendidik anak- 
anak kita untuk bisa menghafal Al-Quran mulai dari usia dini. 

Dalam menanamkan akidah, ilmu pengetahuan agama, 
dan tentunya pengajaran Al-Quran, hendaknya kita mulia 
mengajarkan anak-anak kita sejak mereka masih berusia 
dini. 

Pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh terhadap 
perkembangan otak dan memori mereka yang masih polos. 
Mereka bagaikan kaset kosong yang siap diisi oleh apa saja. 
Apa pun yang didengar sang anak, pasti akan terekam dalam 
memorinya. 

Oleh karena itu, seoptimal mungkin kita perdengarkan 
kepada buah hati kita bacaan Al-Quran, baik kita langsung 
yang membacanya atau dengan menggunakan kaset atau 
semacamnya. Cara itu pula yang pernah dilakukan oleh para 
sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in dan telah menjadi tradisi 
dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. 

Para sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in memiliki perhatian 
sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak 
mereka. Demikian pula para tabi'in dan orang yang mengikuti 
mereka dengan baik sampai kiamat kelak. 

Kalau kita membaca kitab-kitab klasik berbahasa Arab, banyak 
riwayat yang bercerita tentang para ulama yang berhasil 
menghafal Al-Quran pada usia sebelum mencapai sepuluh 
tahun. Imam Syafi'i rahimahullahu misalnya. Peletak Madzhab 
Asy-Sayfi'iyyah ini berhasil menghafal Al-Quran 30 juz pada 
usia tujuh tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, di 
antaranya Tafsir Jalalain dan Tafsir Al-Durrul Mantsur, hafal Al- 
Quran 30 juz pada saat usianya belum genap delapan tahun. 

Ada beberapa metode atau cara yang bisa diterapkan dalam 
mengajari anak usia 6 -8 tahunan dalam hal hafalan Al- 
Quran. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 25 



Pertama, harus kita pahami, anak-anak seusia ini lebih 
suka mendapatkan pujian, reward, hadiah, iming-iming, 
atau apalah namanya. Yang jelas, mereka sangat menyukai 
hadiah atau memperoleh sesuatu bila selesai mengerjakan 
tugas. Ini akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan 
pendekatan ancaman atau pukulan bila si anak tidak mau 
atau tidak mencapai target tertentu dalam menghafal Al- 
Quran. Berikan mereka hadiah apa saja --tidak harus yang 
harganya mahal. Yang penting, bentuk perhatian dari 
seorangguru atau orangtuanya. 

Baik sekali kalau hadiah yang diberikan kepada sang 
anak itu berkaitan erat dengan program tahfizh Al- 
Quran, walaupun harganya agak mahal, seperti Al-Quran 
digital, MP4, atau HP yang berisikan tilawah Al-Quran 30 
juz. Tentunya itu akan membuat anak lebih bersemangat 
dalam belajar dan menghafal Al-Quran. 

Kedua, selalu memuji dan menyanjung sang anak atas 
keberhasilannya dalam menyelesaikan tugas atau telah 
mencapai target tertentu dalam menghafal Al-Quran. 
Jangan sampai kita berlaku tidak adil terhadap anak. 
Jangan sampai terjadi, ketika dia melakukan kesalahan 
atau tidak mencapai target, kita selalu menyalahkannya 
dan membuat dia berputus asa dan akhirnya 
mengakibatkan sang anaktidak mau lagi menghafal. Jadi, 
harus lebih diperhatikan bagaimana sang anak tersebut 
selalu senang dalam proses menghafal. 

Ketiga, yang juga tidak kalah pentingnya adalah 
menciptakan suasana belajar atau menghafal yang 
menyenangkan dan senyaman mungkin. Hal itu agar 
anak akan merasakan mudah dan nikmatnya menghafal 
Al-Quran. Jangan sekali-kali ada kesan memaksa dan 
menekan anak untuk menghafal Al-Quran. Bila hal 
pemaksaan atau penekanan itu dilakukan, maka bukan 



OurusOtfu TAencjfiafafflf-Qumn 



saja anak tidak mau menghafal, tapi juga bisa jadi dia 
nanti akan benci dan trauma saat disuruh menghafal. 

Keempat, usahakan sebelum mulai menghafal, guru 
atau orangtua yang mengajarkannya bercerita secara 
ringkas tentang isi ayat atau surat yang akan dihafal. 
Dengan cara demikian, dia akan menjadi lebih tertarik 
dan termotivasi untuk menghafal. Dia ingin sekali 
menghafal ayat atau surat yang bercerita tentang kisah- 
kisah tertentu di dalam Al-Quran. 

Kelima, mungkin ini juga tidak kalah pentingnya untuk 
merangsang anak dalam menghafal Al-Quran, yakni 
buatlah gambar-gambar yang berkaitan erat dengan 
ayat atau surat yang akan dihafal agar mereka dapat 
membayangkan kejadian atau peristiwa apa saja yang 
terjadi. 

Keenam, memilih guru yang kompeten -memiliki 
kapasitas cukup. Idealnya guru tersebut sudah hafal 30 
juz. Itu pula yang pernah dilakukan oleh Khalifah Harun 
Al-Rasyid. Dia memanggil seorang guru yang alim, saleh, 
hafal Al-Quran, dan banyak menghafal hadits dan disiplin 
ilmu lainnya, untuk mengajari anaknya. 

Seorang guru harus berpenampilan menarik dan 
menyenangkan. Guru tidak saja dituntut untuk memiliki 
kamampuan hafal dan membaca Al-Quran dengan baik, 
motivasi yang tinggi, dan akrab dengan anak-anak, tetapi 
juga harus memenuhi kriteria tambahan lain, seperti kreatif, 
inovatif, dan mau duduk dan bermain bersama anak-anak. 

Semoga penjelasan singkat di atas dapat memberikan 
pencerahan kepada kita sebagai orangtua atau sebagai guru 
sehingga harapan mulia agar anak-anak kita dapat menghafal 
Al-Quran bisa terwujud. Amin ya Rabbal 'alamin. Wallahu 
a'lam bish-shawab.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 27 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Khusiju Saat 
Tilawali Al-Q uran 



d it 

Bagaimana cam efektif agar ketika tilawah (membaca 



Usahakan, saat kita membaca ayat-ayat Al- | 
Quran, sadari bahwa ayat-ayat itu hanya I 
ditujukan kepada kita. Ketika kita melalui ayat- j 
ayat rahmat dan kenikmatan, maka kita berdoa 

kepada Allah SWT agar mendapatkannya. 

Apabila kita membaca aya-ayat adzab dan 

keburukan, maka kita berdoa kepada Allah 
SWT agar kita dihindarkan darinya. Sebaliknya g 

apabila kita membaca ayat-ayat yang berisi 
rahmat dan kenikmatan maka kitajuga berdoa 
agar kita selalu mendapatkannya. 



Cinta kepada Al-Quran adalah kunci utama untuk dapat 
tadabur Al-Quran. Cinta itu masalah hati dan hati adalah 
"perangkat" untuk bisa memahami Al-Quran. 

Hati kita ada dalam genggaman Allah SWT. Hanya Dia Yang 
Mahamampu membolak-balikan hati kita. Karenanya, kita 
sebagai hamba-Nya, sangat membutuhkan hidayah dan 
bimbingan-Nya agar hati kita senantiasa terbuka untuk bisa 
"menyantap" nikmatnya "hidangan Al-Quran". 

Kita juga harus menyadari, untuk apa kita membaca Al- 
Quran? Oleh karenanya, saat membaca Al-Quran, usahakan 
hati kita ini hadir saat membacanya. Namun bagaimana kita 
dapat khusyu' dan dapat mentadaburi Kalamullah ini? Mari 
kita meperhatikan kalimat berikut: 

"Bacalah Al-Quran, seakan-akan dia diturunkan kepadamu." 

Ungkapan ini bukan hadits Rasulullah SAW, juga bukan 
Firman Allah SWT. Ini hanyalah sebuah ungkapan manusia 
biasa seperti kita juga. Satu ungkapan yang keluar dari mulut 
seorang ayah kepada anaknya. Ungkapan yang mampu 
memberikan kesan mendalam di hati sang anak tercinta. 

Saat tilawah atau membaca Al-Quran, kita harus berusaha 
merasakan bahwa diri kita sedang diajak berbicara oleh Allah 
SWT melalui ayat-ayat-Nya yang tertulis di dalam mushaf. 

Usahakan,saatkita membaca ayat-ayat Al-Quran, sadari bahwa 
ayat-ayat itu hanya ditujukan kepada kita. Ketika kita melalui 
ayat-ayat rahmat dan kenikmatan, maka kita berdoa kepada 
Allah SWT agar mendapatkannya. Apabila kita membaca aya- 
ayat adzab dan keburukan, maka kita berdoa kepada Allah 
SWT agar kita dihindarkan darinya. Sebaliknya apabila kita 
membaca ayat-ayat yang berisi rahmat dan kenikmatan maka 
kita juga berdoa agar kita selalu mendapatkannya. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 31 



Membaca Al-Quran dengan penuh khusyu dan tadabbur 
sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Bahkan, orang yang tidak 
mentadaburi Al-Quran disebut sebagai orang yang tertutup 
(terkunci) hatinya. 

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran 
ataukah hati mereka terkunci?" (Q.S. Muhammad/ 48:24). 
Tadabbur adalah memikirkan dan memperhatikan ayat-ayat 
Al-Quran dengan tujuan agar kita dapat memahami makna, 
hikmah-hikmah, dan maksud yang terkandung di dalamnya. 
Menurut salah seorang ulama, tadabbur juga memiliki arti 
mengamalkan karena amal adalah buah dari tadabbur itu 
sendiri. 

AM bin Abu Thalib r.a. berkata: 

"Wahai pembawa risalah Al-Quran, wahai pembawa ilmu, 
beramallah kalian, karena yang disebut orang berilmu adalah 
orang yang mengamalkan ilmunya". 

Al-Hasan Al-Bashri berkata: 

"Tidak dikatakan mentadabburi ayat-ayat-Nya kecuali 
dengan mengikutinya (untuk diamalkan)". 

Selain meperhatikan adab-adab dalam membaca Al-Quran 
dan penjelasan di atas, juga ada beberapa hal yang harus 
diperhatikan agar hati kita "hadir" saat membaca Al-Quran; 
agar kita khusyu saat "menyantap" ni'matnya "hidangan Al- 
Quran". 

Pertama, lakukan bacaan yang baik dan benar. Jika kita 
mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar, 
maka beruntunglah kita, karena yang demikian itu akan 
dapat membantu kita khusyu saat tilawah. 

Kedua, memahami ayat yang kita baca. Di antara yang dapat 
membantu untuk bisa khusyu adalah memahami ayat yang 
kita baca. Bagi yang menguasai bahasa Arab, untuk bisa 



3 2 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



paham ayat yang kita baca, kita bisa merujuk kepada kitab- 
kitab tafsir, terutama yang disusun secara ringkas agar kita 
dapat paham -walaupun hanya secara global. 

Bagi kita yang belum menguasai bahasa Arab, ada 
banyak cara untuk bisa paham isi atau kandungam ayat- 
ayat yang kita baca, di antaranya dengan menggunakan 
Mushaf terjemahan. 

Ketiga, mengulang-ulang ayat yang sedang dibaca, baik 
ayat-ayat adzab maupun ayat-ayat nikmat. Usahakan 
memahami makna ayat yang dibaca. Kalau belum 
mamahami bahasa Arab dengan baik, bisa dengan melihat 
terjemahan Al-Quran. Dengan cara demikian, setiap kali 
kita membaca ayat Al-Quran, kita bisa langsung dapat 
memahaminya. Ketika kita memahami ayat yang kita 
baca, maka ini akan menambahkan kekhusyu'an kita. 

Secara pribadi, saya tidak ingin atau tidak pernah 
menganjurkan siapa pun untuk belajar menerjemahkan Al- 
Quran. Justru saya menganjurkan murid dan teman-teman 
saya, agar serius dan bersungguh-sungguh belajar Arab, 
baik secara intensif maupun non-intensif. Yang penting, 
belajar secara rutin, terus-menerus. 

Ketika kita sudah mampu berbahasa Arab dengan baik, selain 
bisa memahami Al-Quran, kita juga bisa membaca kitab- 
kitab hadits dan literaratur Islam lainnya yang berbahasa 
Arab yang sampai saat ini menjadi rujukan para ulama di 
seluruh dunia. 

Kalau kita belajar menterjemahkan Al-Quran tanpa memiliki 
bekal bahasa Arab yang cukup, saya khawatir akan banyak 
jatuh dalam kesalahan saat memahami isi Al-Quran. 

Keempat, membaca Al-Qurandengantartil,yaitumembacanya 
tidak terburu-buru. Yang dituntut dalam membaca Al-Quran 
bukan saja banyaknya ayat yang kita baca, akan tetapi juga 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 33 




kualitas pemahaman terhadap Al-Quran. Dengan membaca 
Al-Quran secara tartil, maka kita akan mempu membacanya 
dengan khusyu' dan akan dapat membantu kita dalam 
memahami ayat yang kita baca. 

Kelima, usahakan membacanya dengan suara yang jahar 
(keras), tapi tidak membuat orang di sekeliling kita merasa 
terganggu. Selain menambah kekhusyu'an saat menjaharkan 
tilawah Al-Quran, orang yang mendengarkan juga akan ikut 
mendapatkan pahala mendengar bacaan Al-Quran. Tentunya, 
kita harus melepaskan diri kita dari sifat riya' dan sum'ah 
(ingin dilihat dan didengar orang) saat membaca Al-Quran. 

Jika kita dapat melaksanakan hal-hal di atas, insya Allah, kita 
akan dapat membaca Al-Quran dengan penuh khusyu' dan 
tadabbur. Bacaan Al-Quran kita akan mampu menyentuh 
dan menggetarkan hati kita sendiri dan hati orang yang 
mendengarnya. Wallahu a'lam bish-shawab.* 



34 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Kalau Anda sudah menghafalnya, usahakan 
selalu dibaca ulang. Usahakan mushafAl- 
Qur'an selalu ada di sisiAnda. Sekali lagi, 
perbanyak pula mendengarkan bacan Al- 
Qur'an dari kaset dan sejenisnya. 



Kita sangat bersyukur, banyak kaum Muslim yang memiliki 
keinginan kuat untukaktif dalam kegiatan menghafal Al-Qur'an. 
Akan tetapi, bagaimana apabila di antara mereka memiliki 
bacaan yang kurang baik atau tajwidnya masih berantakan? 
Atau cara pengucapan lafazh Al-Qur'an yang kurang fasih? 

Kita harus bersyukur bisa tinggal di lingkungan di mana 
banyak ayat Al-Qur'an sering terdengar. Karenanya, kalau 
ada keinginan untuk menghafal, maka kita tidak akan banyak 
mengalami kesulitan. Mengapa demikian? Kalau telinga kita 
terbiasa mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka 
kita akan mudah menghafal Kitabullah ini. 

Memang, idealnya sebelum mulai menghafal Al-Qur'an, 
hendaknya kita memperbaiki bacaan kita terlebih dahulu. 
Bagaimana caranya? Mudah saja, coba Anda mendaftar 
ke sebuah Lembaga Pendidikan Islam yang salah satu 
programnya adalah tahsin tilawah (memperbaiki bacaan) 
dan tahfizh (menghafal) Al-Qur'an. 

Anda juga dapat membenahi bacaan Al-Qur'an dengan 
merujuk kepada salah seorang guru yang memiliki kapasitas 
memadai. Anda pun dapat mendengarkan surat/ayat yang 
akan dihafalkan dengan menyimak suara qari dari tape 
recorder, MP3, MP4, VCD player, dan sebagainya. 

Dengan demikian, Anda akan terhindar dari kesalahan dalam 
membaca dan menghafal. Ketika Anda menghafal suatu kata 
atau ayat dalam Al-Qur'an secara tidak benar, maka Anda 
akan sulit memperbaikinya setelah hafalan itu sudah melekat 
dalam ingatan. 

Menghafal Al-Qur'an tidak harus dimulai dari juz 'Amma. Tapi 
kalau menurut Anda itu lebih mudah, silakan lakukan. Lagi 
pula memang, kebanyakan penghafal Al-Qur'an memulainya 
dari itu. Pasalnya, surat-surat dan ayat-ayat dalam juz terakhir 
Al-Quran tersebut pendek-pendek. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 37 




Sejauh ini, setahu saya, banyak lembaga tahfizh Al-Qur'an 
mengajarkan para santrinya untuk mulai menghafal dari Juz 
Amma (Juz 30), Juz Tabarak (Juz 29), Juz Qad Sami'Allah (Juz 
28), dan juz Adz-Dzariyat (Juz 27). Setelah itu baru pindah 
ke juz satu dan seterusnya. Kalau Anda ingin cepat hafal, 
tentunya banyak caranya. Baca sesering mungkin ayat yang 
akan Anda , hafal minimal tujuh kali. 

Kalau Anda sudah menghafalnya, usahakan selalu dibaca 
ulang. Usahakan mushaf Al-Qur'an selalu ada di sisi Anda. 
Sekali lagi, perbanyak pula mendengarkan bacan Al-Qur'an 
dari kaset dan sejenisnya. 

Berapa lama orang biasanya dapat menghafal Al-Qur'an? 
Jawabannya, sebenarnya sangat relatif. Ada yang mampu 
mengahafal cepat 30 juz dalam tempo 1 bulan, 3 bulan, atau 
6 bulan. Ada juga yang 1 tahun, 2 tahun, atau 5 tahun, atau 
mungkin lebih dari itu, tergantung pada tingkat kecerdasan 
dan porsi waktu yang disisihkan. 

Tapi menurut hemat saya, baiknya jangan terburu-buru. Yang 
penting bisa menghafal 30 juz. Misalkan, dalam waktu 3-5 
tahun, tapi kualitas bacaan dan hafalannya "jaminan mutu". 
Syukur kalau sampai paham isi Al-Qur'an selama 5 tahun 
tersebut. 

Semoga penjelasan di atas dapat membantu dan memotivasi 
Anda dan siapa pun yang berazam kuat untuk menghafal Al- 
Qur'an. Semoga pula kita dimudahkan oleh Allah SWT dalam 
memelihara kitab suci-Nya. Amin! Wallahul Musta'an.* 



38 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



ca Belajar Hifzkul Quran R> 



Ustadz yang dirahmati Allah Swt, bagaimana caranya 
mendatangkan guru-guru dari lembaga Muntada untuk 
mengajar hifzhul Quran? Berapa infak yang di tentukan? 
Berapa hari/sepekan waktu yang disediakan? 
Jazakumullah khoyran. 



39 



"Dan apabila seorang penghafal Al-Qur'an 
mendirikan shalat kemudian dia membacanya 
siang dan malam hari; maka dia akan 

selalu mengingatnya, dan apabila dia tidak 
melakukannya maka dia akan melupakannya" 



(H.R. Muslim). 




Alhamdulillah, kesadaran umat Islam untuk kembali kepada 
Al-Quran, terutama dalam hal membaca dan menghafalnya, 
sangat terasa. Fenomena ini terlihat dengan banyaknya 
umat Islam yang ramai-ramai mengaji Al-Qur'an, bukan saja 
di mushalla-mushalla dan masjid-masjid, namun juga di 
perumahan-perumahan, gedung perkantoran, kampus, dan 
sebagainya. 

Sebagian orang, di tengah berbagai kesibukannya, masih 
dapat meluangkan waktu untuk mengaji Al-Qur'an. Ada 
yang dengan datang langsung ke sebuah lembaga yang 
berkonsentrasi dalam pembinaan ngaji Quran, juga tidak 
sedikit yang mendatangkan guru ngaji ke rumahnya atau ke 
tempat dia bekerja. 

Tentunya, bagi lembaga atau orang yang berpendapatan 
lebih, tidak terlalu sulit dalam mendatangkan seorang 
guru ngaji ke rumah atau ke lembaga. Namun, bagi yang 
penghasilannya pas-pas-san, jangankan untuk memanggil 
guru yang bayarannya tidak murah, untuk makan sehari-hari 
aja bukan main sulitnya. 

Mendatangkan guru dari Muntada sangat mudah. Anda bisa 
menghubungi bagian kesekretariatan Muntada Ahlil Qur'an 
di nomor telepon (021) 70587271. Insya Allah, kami siapkan 
tenaga pengajar yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan 
kesiapan gurunya sendiri. 

Mengenai besaran infaq, sebenarnya sangat relatif dan 
berkaitan erat dengan pengembang Lembaga Komunitas 
Penghafal Al-Qur'an ini. Kami ingin sekali memajukan dan 
mengembangkan suatu komunitas ini. Di Muntada Ahlil 
Qur'an kami ingin memberikan kafalah (santunan) yang lebih 
dari cukup bagi para guru dan orang-orang yang terlibat 
dalam pengelolaan lembaga ini, sehingga mereka dapat lebih 
konsentrasi dan serius, tanpa mengurangi keikhlasan dalam 
berkhidmat untuk umat ini. 

Muntada Ahlil Qur'an berkantor di dua ruang ruko yang kami 
sewa. Bangunannya sangat sederhana dengan fasilitas sangat 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 41 



terbatas pula, di bilangan Jin. Raya Jatiwaringin Pondok Gede 
Bekasi. Namun, kondisi fisik kantor itu tidak melunturkan 
semangat kami untuk terus beraktivitas. Insya Allah, kami 
akan menyelenggarkan: 

Pertama, pelatihan bagi para guru atau penghafal Al- 
Qur'an agar mereka siap diterjunkan menjadi pembawa 
risalah Al-Qur'an, khususnya dalam pengajaran baca- 
tulis Al-Qu'ran dan menghafal Al-Qur'an. Syukur kalau 
sampai pada tingkatan pemahaman dan pengamalan. 

Kedua, siapa saja yang ingin mempelajari Al-Qur'an, baik 
membacanya maupun mengahafalnya, laki-laki ataupun 
wanita, tua ataupun muda, memiliki kesempatan yang 
sama untuk bisa menyibukkan diri dengan Al-Qur'an. 

Bagi orang sibuk tetapi memiliki keinginan kuat belajar 
tahfizhul Qur'an, paling tidak untuk tatap muka atau 
pertemuan dengan seorang guru minimal 2 kali dalam 
satu pekan. Selebihnya, di luar pertemuan tersebut, sang 
murid harus melazimkan dirinya untuk selalu membaca dan 
menghafal secara mandiri. Yang dimaksud dengan membaca 
dan menghafal mandiri adalah seorang murid dapat membaca 
secara baik, juga menghafal ayat-ayat atau surat yang akan 
disetorkan di hadapan guru pembimbing. 

Pengelolaan lembaga Muntada Ahlil Qur'an membutuhkan 
biaya tidak sedikit. Oleh karenanya, kami mengajak Anda 
dan kaum Muslimin umumnya, untuk dapat mendukung 
keberlangsungan lembaga ini, baikmereka yangmendapatkan 
pengajaran langsung dari Muntada Ahlil Qur'an maupun 
tidak. 

Dana itu pun kami butuhkan antara lain guna membiayai guru 
yang akan kami kirim untuk mengajar sekumpulan orang 
yang ingin belajar Al-Qur'an dari kalangan tidak mampu. 

Hanya kepada Allah jualah kita bertawakal dan Dia adalah 
sebaik-baik pemberi balasan. Wallahul Musta'an.* 



42 Omu Oitu "MenijLfai Af-Qu 



Sosok Penghaf al 
yang Supersibuk? 



so 



Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan Antum. 
Ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Banyak sekali 
buku tentang tips menghafal Al-Quran dan sejenisnya. 
Namun, di antara yang sudah tersebar, saya belum 
menemukan sosok penghafal yang baru sadar untuk 
mulai menghafal Al-Quran ketika usianya sudah tidak 
muda lagi. Bukan hanya usia, namun aktivitas yang 
begitu padat ditambah urusan keluarga yang menyita 
waktu dan tenaga. 

Yang ada hanya sosok-sosok hafidz yang berhasil 
menghafal ketika dipesantren dan lembaga sejenisnya, 
serta ketika usia mereka masih fresh-fresh-nya dan 
tentu saja belum berkeluarga. 

Bagi kami, wajar jika mereka bisa menghafal Al- 
Quran. Kami sangat sulit menduplikasikan kesukesan 
mereka karena kondisi yang jauh berbeda. Bukankah 
untuk meraih kesuksesan harus mengikuti langkah 
orang-orang yang sudah sukses lebih awal? 
Untuk itu, kami mohon informasi mengenai orang- 
orang yang sibuk, sudah berkeluarga, tapi diberikan 
kesempatan menghafal Al-Quran. Terima kasih. 



Saat ini, umur sang ibu 56 tahun. Sejak sekitar lima 

tahun lalu, ia mulai mempelajari tahsin tilawah 
dengan bimbingan seorangguru tahfizh Al-Qur'an. 

Setelah mendapatkan "lampu hijau" dari sang 
pembimbing, mulailah dia menghafal Al-Qur'an. 

Sebagai seorang ibu rumah tangga, tentunya ibu 
Fatimah disibukkan oleh pekerjaan rumah yang rutin, 
setiap hari. Namun, atas izin Allah SWT, setelah 
lima tahun, akhirnya ia berhasil mengkhatamkan 
hafalan Al-Qur'an seluruhnya, 30juz. Tentuhalini 
tidak mudah dilakukan oleh orang-orangyang tidak 
t memiliki tekad kuat. M 



Subhanallah, saya doakan semoga Allah SWT memudahkan 
segala urusan Anda, terutama tekad Anda yang mulai tumbuh 
dalam menggapai cita-cita seperti para "senoir" yang telah 
hafal Al-Qur'an. 

Saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama merenungi 
Firman Allah SWT dalam surat Al-Qamar, surat ke-54 ayat 17, 
22, 32, dan 40. 

"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk diingat, 
maka apakah ada orang yang mengambil pelajaran?" 

Disinisecarajelas Allah SWTmenjamin, belajardanmenghafal 
Al-Qur'an itu sangat mudah. Ayat ini berulang sampai empat 
kali sebagai penegasan dari Allah SWT, bahwa Al-Qur'an 
mudah dipelajari, dipahami, dihafal, dan diamalkan. 

Memang, selama ini kebanyakan yang berhasil hafal Al-Qur'an 
30 juz melakukan aktifitas menghafalnya di pesantren Tahfizh 
Al-Qur'an, umur masih muda, dan tidak disibukkan dengan 
urusan keluarga. Singkat kata, mereka berkonsentrasi penuh 
di sebuah tempat khusus menghafal Al-Qur'an. Namun, 
banyak juga saudara-saudara kita yang tergolong sibuk dan 
"berumur" mampu menghafal Al-Qur'an 30 juz. 

rb» Cerita Sukses Ibu Fatimah 



Sebut saja Fatimah (bukan nama sebenarnya), seorang ibu 
rumah tangga, tinggal di wilayah Condet Bale Kambang Jakarta 
Timur. Sejak lama ia sadar akan mulianya menghafal Al-Qur'an. 
la pun mulai belajar tahsin tilawah (memperbaiki bacaan Al- 
Qur'an) di sebuah lembaga Al-Quran (pulang pergi, tidak 
mondok, dan kegiatan belajar-mengajarnya tidak setiap hari). 

Saat ini, umur sang ibu 56 tahun. Sejak sekitar lima tahun 
lalu, ia mulai mempelajari tahsin tilawah dengan bimbingan 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 45 



seorang guru tahfizh Al-Qur'an. Setelah mendapatkan 
"lampu hijau" dari sang pembimbing, mulailah dia 
menghafal Al-Qur'an. 

Sebagai seorang ibu rumah tangga, tentunya ibu Fatimah 
disibukkan oleh pekerjaan rumah yang rutin, setiap hari. 
Namun, atas izin Allah SWT, setelah lima tahun, akhirnya ia 
berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur'an seluruhnya, 30 
juz. Tentu hal ini tidak mudah dilakukan oleh orang-orang 
yang tidak memiliki tekad kuat. 

Kisah Ibu Maryam 



Ibu Maryam Ramayani, ibu rumah tangga asal Sumatra Barat, 
menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz sekitar tiga tahun 
lalu telah. la mulai menghafal Al-Quran pada umur 33 tahun. 
Alhamdulillah, dengan bimbingan seorang ustadz yang hafal 
Al-Quran, ibu dua orang anak ini mampu mengikuti jejak para 
penghafal Al-Quran. 

Di samping sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus 
mengurusi suami dan kedua anaknya, Senin sampai Jumat 
ia juga terlibat aktif dalam perkuliahan di sebuah Sekolah 
Tinggi Islam di bilangan Mampang Prapatan Jakarta Selatan. 
Selain aktif dalam kegiatan dakwah, sang ibu saat menghafal 
Al-Quran juga aktif mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak 
di Komplek DPR Rl Kali Bata Jakarta Selatan. 

Karena dengan mengajarkan Al-Quran sambil menghafal 
akan terasa lebih mudah dan banyak keberkahan, maka atas 
pertolongan Allah SWT, dalam waktu cukup singkat untuk 
ukuran orang sibuk, sekitar 3,5 tahun, alhamdulillah, Ibu 
Maryam mampu menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juz. 

Salah satu upaya dalam menghafal Al-Quran di sela-sela 
kesibukannya, ia menghafalkan dengan bantuan Mushaf Al- 



46 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



Quran terjemahan yang memberinya pemahaman ayat atau 
surat yang akan dihafal dan lebih mudah diingat. 

Cerita Pak Amir (bukan nama sebenarnya) 



Pak Amir, 43 tahun, kebetulan ia tetangga saya di Jatimakmur 
PondokGede Bekasi. Sejaktahun 1990-an ia mulai menghafal 
Al-Qur'an surat-surat pendek, dilanjutkan dengan surat-surat 
yang agak panjang. 

Bapak9 anakyang bekerja sabagai peneliti di sebuah lembaga 
milik pemerintah ini telah hafal Al-Qur'an tidak kurang dari 
9 juz. la memiliki konsistensi yang baik, komitmen dengan 
waktu dalam menghafal Al-Qur'an, walaupun dengan 
kesibukannya yang tidak sedikit. 

Sebagai seorang aktivis dakwah, ia tidak lupa membekali dirinya 
dengan ilmu agama, di antaranya dengan menghafal Al-Qur'an 
itu. Sebuah mushaf mini tidak lepas dari dirinya. Mushaf 
itu selalu ada di saku bajunya. Bila ada waktu luang, ia tidak 
melewatkannya begitu saja, tapi diisinya dengan menghafal. 

Bila dalam perjalanan, ia seringkali menggunakan walkman 
untuk mendegarkan murottal Al-Qur'an. Dengan begitu - 
-banyak mendengarkan murottal Al-Quran, pasti proses 
menghafalnya terasa lebih mudah. 

Memang,untukmenghafalkan Al-Qur'an iaagak"memaksakan 
diri". Kalau tidak, mana bisa orang sesibuk dirinya, termasuk 
menyelesaikan program S3-nya di Institut Pertanian Bogor 
(IPB), mampu menghafal sekian banyak juz? Terlebih ia pun 
harus selalu mendidik anak-anaknya yang jumlahnya hampir 
selusin! Anak pertamanya, yang kini telah bergelar sarjana SI 
IPB, sejak lama hafal Al-Quran 30 juz. Anak ke-2, 3, 4 dan ke- 
5 juga sudah hafal mulai dari 3 juz sampai 20 juz lebih. Jadi, 
sepertinya bapak yang rambutnya sudah mulai memutih ini 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 47 



ingin sekali anak-anaknya menjadi para penghafal Al-Quran, 
sehingga tercipta sebuah rumah yang berpenghuni para 
penghafal Al-Quran. Oh, alangkah indahnya! 

Tidak bisa menghafal topi mampu membantu menghafal. 

Alhamdulillah, sejak tiga tahun silam saya dan kawan-kawan 
mendapatkan amanah mulia sekaligus beban begitu besar 
dalam pengelolaan lembaga yang mengurusi anak-anak untuk 
menghafal Al-Quran 30 juz. Saat ini, ada sekitar 70-an santri 
aktif dalam kegiatan menghafal Al-Quran di lembaga ini. 

Santri kami yang saat itu tersebar di beberapa wilayah di 
Jakarta Utara dan Bekasi. Kami menggunakan istilah "Cluster" 
untuk setiap wilayah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) santri. 
Alhamdulillah, sampai saat ini 8 orang ustadz yang terlibat 
dalam KBM semuanya hafal Al-Quran 30 juz. KBM di Lembaga 
ini hanya tiga hari dalam satu pekan atau 10 jam. Santri tetap 
tinggal bersama keluarga di rumah dan tidak mondok. 

Alhamdulillah, ada salah seorang santri kami yang baru 
bergabung 1 tahun sudah mampu menghafal 10 juz. Santri 
lainnya telah hafal antara 3 sampai 8 juz. 

Pendidikan di Lembaga ini gratis 100% dan berbeasiswa Rp 
100 ribu setiap bulan bagi mereka yang mencapai target 
1/2 juz per bulan. Dari mana sumber dananya? Di sini Allah 
SWT menggerakan tangan manusia-manusia mulia untuk 
menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk sebuah cita-cita 
mulia ini. 

Sejak Februari 2008 lalu saya dan kawan-kawan para penghafal 
Al-Quran mendirikan sebuah Lembaga untuk mendukung 
pembinaan para guru Al-Quran. Salah satu programnya 
mengajarkan baca-tulis Al-Quran, menghafal, bahkan sampai 
pada tingkat mampu mengajarkankan tafsir Al-Quran. Insya 
Allah, ke depannya mampu pula untuk mengamalkannya. 



48 gurus' %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Alhadulillah, kini sekitar 30 ustadz dan ustadzah penghafal 
Al-Quran telah bergabung bersama lembaga kami, Yayasan 
MUNTADA AHUL QURAN (THE QURANIC QOMM UNITY 
FORUM). Sebanyak 15 di antara mereka hafal 30 juz dan 5 
orang telah memiliki sanad sampai ke Rasulullah SAW. 

Banyak kawan saya yang ingin sekali menghafal Al-Quran, 
namun karena kesibukan dan sebagainya, di antara 
mereka ada yang mengatakan: "Walau saya tidak mampu 
menghafalkan Al-Quran, tetapi saya bisa membantu ustadz 
dalam hal pendanaan". 

Alhamdulillah, sampai saat ini berjalan lancar. Kawan yang lain 
yang juga tidak mampu terlibat dalam menghafalkan Al-Quran, 
tetapi dengan ikhlasnya mereka dapat membantu kami dalam 
pengadaan komputer, pembuatan website, dan sebagainya. 
Website MUNTADA AHUL QURAN (THE QURAN ICQOMMUNITY 
FORUM), www.muntadaquran.net, sudah bisa diakses. 

Kami pun mengajak saudara-saudara, khususnya para 
pengunjung www.warnaislam.com, dan kaum Muslimin 
para pencinta Al-Quran pada umumnya, untuk berinvestasi 
amal shalih melalui YAYASAN MUNTADA AHUL QURAN (THE 
QURANIC QOMMUNITY FORUM). 

Walaupun kita tidak mampu menghafalkan Al-Quran, 
tetapi kita mampu menbantu mewujudkan cita-cita mulia 
ini, semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada 
kita semua dan menerima semua amal ibadah kita dan 
menjadikannya sebagai pemberat amal shalih kita di akhirat 
kelak dan akhirnya kita dimasukkan ke dalam surga-Nya. 
Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin. Wallahu a'lam bish-shawab.* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 49 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Belajar dan Menghafal 
AL-Quran Sendiri, 
Mungkinkak? 



Ustadz, bagaimana metode belajar dan menghafal Al- 
Qur'an sendiri tanpaguru, bila say a ada waktu luangdi 
kantor. Lokasi saya di daerah Meruya, di mana lokasi 
terdekat untuk belajar? 



"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu 
untuk diingat, maka apakah ada orangyang 
mengambil pelajaran?". (QS Al-Qamar: 17, 22, 
32, dan 40) 




Belajar dan menghafal Al-Qur'an adalah pekerjaan yang 
sangat mudah. Ada jaminan Allah SWT akan hal itu dalam Al- 
Qur'an surat Al-Qamar surat ke-54 ayat 17, 22, 32, dan 40. 

"Sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk diingat, 
maka apakah ada orangyang mengambil pelajaran?". 

Ayat tersebut berulang sampai empat kali sebagai penegasan 
dari Allah SWT bahwa Al-Qur'an mudah dipelajari, dipahami, 
dihafalkan, dan diamalkan. 

Pada zaman modern ini banyak cara untuk mempelajari 
Al-Qur'an,baik melalui CD, kaset, dan sebagainya. Dengan 
demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak belajar A- 
Qur'an. 

Kita juga harus pandai-pandai memanfaatkan waktu 
luang dengan mendegarkan salah satu tilawah seorang 
syaikh terkenal. Saat berangkat kerja, misalnya, juga bisa 
dimanfaatkan untuk mendengarkan tilawah tersebut. 
Lakukan itu secara berulang-ulang, insya Allah, sedikit demi 
sedikit kita akan mampu. Namun, usaha ini barang tentu 
hasilnya sangat berbeda dengan orang yang belajar dengan 
bimbingan seorang guru. 

Harus kita pahami, belajar Al-Qur'an yang benar harus 
dengan guru, agar ia dapat memperbaiki kekeliruan bacaan 
dan cara melafazhkan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan talaqqi 
dan musyafaha (menerima pelajaran dengan berhadapan 
langsung) kepada guru inilah cara yang paling benar. 
Sebagaimana para Ahlul Qur'an bertalaqqi langsung 
kepada gurunya, gurungya bertalaqqi kepada gurunya lagi, 
sampai kepada para qari' dari kalangan Tabi'in, kemudian 
mereka bertalaqqi kepada qari' dari kalangan sahabat yang 
bertalaqqi langsung kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW 
juga bertalaqqi kepada Malaikat Jibril dan malaikat Jibril 
menerima Al-Qur'an dari Allah SWT. 



OurusOitu'MencjfiafafAf-Quran 53 



:i katnya hams 
teman-teman 
n mengahafal 



Jadi, sekali lagi, belajar Al-Qur'an yang baik hakikatnya 
dengan guru. Saran saya, Anda mengumpulkan teman- 
sekantor untuk sama-sama berkomitmen dalar 
Al-Qur'an, lalu memanggil seorang guru yang bisa datang ke 
kantor untuk mengajarkan cara membaca dan menghafalkan 
Al-Qur'an, walaupun hanya satu pekan sekali. Itu akan lebih 
baik daripada sama sekali tanpa bimbingan guru. Kalau hal 
ini bisa berlangsung secara kontiniyu, insya Allah Anda bisa 
melihat hasilnya sendiri nanti. 

Mohon maaf untuk sementara kami belum mendapatkan 
informasi tentang lembaga yang mengajarkan hafalan A- 
Qur'an di daerah Meruya. Wallahu a'lam bish-shawab.* 



54 Jurus %u JAenqhafal ftf-Qu 



Doa Qunut, 
Sunak atau Bidak? 



Sejak kecil saya diajari selalu membaca doa Qunut 
dalam shalat Subuh. Kalau lupa membacanya, 
diharuskan Sujud Sahwi sebelum salam. Banyak 
nasihat dari teman-teman saya bahwa doa Qunut itu 
bid'ah. Kebetulan sekarang di daerah saya kalau shalat 
Subuh tidak ada doa Qunut. 

Pertanyaan saya: 

1. Apakah saya harus Sujud Sahwi atau tetap tidak 

membaca doa Qunut mengikuti imam yang ada'? 

2. Apakah dasar menggunakan doa Qunut dan tidak 

memakai doa Qunut? 



Masalah Qunut termasuk dalam masalah 
furi'iyah (cabang dan bukan prinsip) dan 
hukumnya tidak pernah wajib. Maka, 
sebaiknya jangan sampai perbedaan pendapat 
ini merusak amal-amal baik kita yang lain, 
lantaran kita telah mencaci-maki saudara kita, 
atau telah melontarkan ucapan-ucapan yang 
justru merusak pahala yang telah kita miliki 
sebelumnya. 



Anda patut bersyukur kepada Allah SWT karena Anda telah 
diberikan nikmatnya belajar Islam sejak kecil. Sampai Anda 
dewasa, ilmu yang diajarkan oleh guru ngaji Anda masih 
tercatat di memori dan selalu Anda terapkan dalam setiap 
amaliyah ibadah Anda. 

Kalau teman Anda mengatakan Qunut subuh itu bid'ah, 
sebenarnya dia tidak mengetahui adanya perbedaan dalam 
hal Qunut ini. Atau dia lebih cenderung kepada pendapat 
yang mengatakan bahwa Qunut itu bid'ah. 

Jadi, untuk pertanyaan pertama, apakah kalau Anda yang 
biasa melakukan Qunut Subuh harus melakukan Sujud Sahwi 
saat bermakmum kepada imam yang tidak melakukannya? 

Jawabannya, Anda tidak perlu melakukan Sujud Sahwi. 
Alasannya, pertama, karena Anda tidak meninggalkan 
kewajiban dalam shalat. Kedua, saat itu Anda sedang menjadi 
makmum, sedangkan seorang makmum wajib mengikuti 
imam. Tapi kalau Anda cenderung kepada pendapat Imam 
Syafi'i, maka Anda boleh melakakun Sujud Sahwi. 

Qunut Subuh adalah masalahah "klasik". Sejak lama kalangan 
ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian ulama 
mengatakan bid'ah dan melarang kita melakukannya. Namun, 
sebagian lainnya mengatakan bahwa Qunut itu sunah dan 
menganjurkan kita untuk melakukannya. Khilafiyah (perbedaan 
pendapat) itu terjadi karena cara pandang yang berbeda dalam 
memahami hadits tentang doa Qunut. 

Sebagian ulama mengatakan, doa Qunut dilakukan oleh 
Rasulullah SAW hanya sebulan, yaitu setelah terjadi 
pembunuhan terhadap para sahabat dalam suatu peristiwa. 
Rasulullah SAW berdoa di dalam shalat untuk kehancuran 
orang-orang yang telah melakukan pembunuhan itu. Namun 
sebagian lain berpendapat, Qunut saat shalat Subuh adalah 
amalan sunnah. 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 57 



a>° Hadits yang Mendasari Qunut Shubuh 



Menurut para ulama yang berpendapat Qunut itu sunnah, doa 
itu tidak lepas dari amaliah Rasulullah SAW dan kedudukan 
riwayatnya pun kuat. Di antaranya diriwayatkan oleh Bukhari 
dan Muslim. 

"Al-Barra bin Azib r.a. berkata bahwa Nabi SAW dahulu 
melakukan Qunut pada shalat Maghrib dan Shubuh" (H.R. 
Ahmad, Muslim dan Tirmidzi). 

Kedudukan hadits itu shahih, sebagaimana komentar Imam 
Tirmidzi yang menshahihkan hadits di atas. Hadits lainnya: 

Ibnu Umar r.a. mendengar Rasulullah SAWketika bangun 
dari ruku'pada rakaat terakhir shalat Shubuh mengucapkan, 

"Ya Allah, laknatlah fulan, fulan dan fulan." Setelah 
mengucapkan sami'allahu liman hamidah. Maka Allah SWT 
menurunkan ayat: "Laisa laka minal amri syai'un hingga 
fainnahum zhalimun '.(H.R. Bukhari). 

Ucapan Rasulullah SAW setelah bangun dari ruku' itu adalah 
lafazh yang beliau ucapkan dalam Qunut. Menurut pendukung 
Qunut, kedua hadits di atas adalah landasan masyru'iyah 
(disyariakannya) Qunut. 

Hadits lain yang mendukung Qunut adalah riwayat sahabat 
Anas r.a yang menjadi pembantu Rasulullah SAW. 

Anas bin Malik r.a. ditanya, "Apakah Rasulullah SAW Qunut 
pada shalat Shubuh?" Beliau menjawab, "Ya". "Sebelum ruku' 
atau sesudahnya?" "Sesudahnya" (HR. jama'ah kecuali Tirmidzi) 

Rasulullah SAW tetap melakukan doa Qunut pada shalat 
shubuh hingga akhir hayatnya." 
(H.R Ahmad, Bazzar, Baihaqi dan Hakim) 



58 %rus Oitu TAenjfiafaf ftf-Qu 



Pendapat yang Tidak Mendukung Qunut 



Kalangan yang tidak menerima Qunut sebagai sunah juga 
berangkat dari hadits lainnya yang juga shahih. Salah satunya: 

"Anas bin Malik r.a berkata bahwa Nabi SAW berqunut 
selama satu bulan kemudian meninggalkannya." 
(H.R. Ahmad) 

Hadits ini menegaskan, Qunut itu memang pernah dilakukan 
oleh Nabi SAW, namun hanya berlaku sebulan saja, setelah 
itu sudah tidak lagi. Lagi pula, menurut para pendukungnya, 
Qunut yang dimaksud bukan Qunut Shubuh, melainkan 
Qunut Nazilah. Maka, mereka pun mengatakan, Qunut pada 
shalat Shubuh itu tidak ada sunahnya. Bahkan, sebagian 
ulama mengatakan bahwa hal itu bid'ah. 

Kalau kita merujuk kepada kitab-kitab fiqih yang menajdoi 
sandaran (muktamad), bisa kita gambarkan konfigurasi 
pendapat di kalangan empat imam mazhab sesuai dengan 
urutan masa hidup mereka. Ringkasannya sebagai berikut: 

1. Imam Abu Hanifah 

Imam Abu Hanifah mengatakan, Qunut itu disunahkan 
pada shalat Witir yang dilakukan sebelum ruku'. 
Sedangkan pada shalat Subuh, ia tidak menganggapnya 
sebagai sunnah. 

Bila seorang makmum shalat Subuh di belakang imam 
yang melakukan Qunut, hendaknya dia diam saja dan 
tidak mengikuti atau mengamini imam. Namun Abu 
Yusuf, salah seorang tokoh dari mazhab Abu Hanifah 
yang juga murid Abu Hanifah mengatakan, bila 
imamnya melakukan Qunut, maka makmumnya harus 
mengikutinya karena imam itu harus diikuti. 



OumsWulvlengfiafafAf-Qumn 59 



2. Imam Malik 



Imam Malik mengatakan, Qunut itu ibadah sunnah pada 
shalat Subuh dan lebih afdhal dilakukan sebelum ruku'. 
Meskipun bila dilakukan sesudahnya tetap dibolehkan. 
Menurutnya, melakukan Qunut secara zhahir (bersuara 
keras) dibenci untuk dilakukan kecuali hanya pada 
shalat Subuh. 

Qunut itu dilakukan dengan sirr (suara pelan), 
yaitu tidak mengeraskan suara bacaan. Imam dan 
makmum melakukannya masing-masing atau sendiri- 
sendiri. Dibolehkan untuk mengangkat tangan saat 
melakukan Qunut. 

3. Imam Syafi'i 

Imam Syafi'i mengatakan, Qunut itu disunnahkan pada 
shalat Subuh dan dilakukan sesudah ruku' pada rakaat 
kedua. Imam shalat hendaknya berqunut dengan lafaz 
jama' dengan menjaharkan (mengeraskan) suaranya 
dengan diamini oleh makmum sampai kepada lafazh 
(wa qini syarra maa qadhaita). Setelah itu, dibaca secara 
sirr (tidak dikeraskan) mulai lafazh (Fa innaka taqdhi...), 
dengan alasan bahwa lafazh itu bukan doa tapi pujian 
(tsana"). 

Disunnahkan pula untuk mengangkat kedua tangan, 
namun tidak disunahkan untuk mengusap wajah 
sesudahnya. 

Menurut mazhab Imam Syafi'i, bila Qunut pada shalat 
Shubuh tidak dilaksanakan, maka hendaknya melakukan 
Sujud Sahwi, termasuk bila menjadi makmum dan 
imamnya bermazhab Abu Hanafiyah yang meyakini 
tidak ada Qunut pada shalat Subuh. Maka secara sendiri, 
makmum melakukan Sujud Sahwi. 



60 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



4. Imam Ahmad bin Hanbal 



Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, Qunut merupakan 
amaliyah sunnah yang dikerjakan pada shalat witir, yaitu 
dikerjakan setelah ruku. Sedangkan Qunut pada shalat 
Subuh tidak dianggap sunnah. 

rb» Tidak Pernah Tuntas 



Sepanjang zaman, masalah Qunut tidak akan pernah ada 
penyelesaiannya. Masing-masing kubu akan merasa paling 
kuat dalam berhujjah. 

Kita boleh memilih atau mengikuti pendapat mana pun, 
asalkan tidak taklid buta atau tidak tahu dalilnya. Yang jelas, 
perbedaan itu tidak layak untuk dijadikan sumber atau bahan 
pertentangan, apalagi saling ejek dan saling caci. Sebab, para 
fuqaha sendiri pun ketika mereka berbeda pendapat, tetap 
menjaga norma, susila, atau adab-adab dalam berbeda 
pendapat. 

Seandainya dalil tentang Qunut hanya ada satu dan isinya 
hanya mengacu kepada satu kesimpulan, tentunya para 
ulama tidak akan berbeda pendapat. 

Masalah Qunut termasuk dalam masalah furi'iyah (cabang 
dan bukan prinsip) dan hukumnya tidak pernah wajib. Maka, 
sebaiknya jangan sampai perbedaan pendapat ini merusak 
amal-amal baikkita yang lain, lanta ran kita telahmencaci-maki 
saudara kita, atau telah melontarkan ucapan-ucapan yang 
justru merusak pahala yang telah kita miliki sebelumnya. 

Jangan sampai semangat kita untuk mencari sunnah, kita 
lakukan dengan cara yang justru bertentang dengan sunnah 
itu sendiri. Wallahu a'lam bishshawab.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 61 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Belajar Al-Q uran: 
Bakasa Arab 
Baliasa Pengkuni Sorga? 



Atas anjuran ustadz, saya sudah mulai belajar bahasa 
Arab. Sayajuga sudah mulai belajar membaca Al-Quran 
dan tajwidnya. Saya aturwaktu belajar inipadapagi hari 
sebelum dan sesudah sholat Subuh, serta setelah sholat 
Isya. Yang saya tanyakan: 

1. Apakah bahasa Arab Al-Quran sama dengan bahasa 
Arab yang digunakan sekarang? Artinya, kalau saya 
cari artinya di kamus dapat dibenarkan? 

2. Apakah benar bahasa Arab adalah bahasa akhirat? 

3. Bolehkah belajar membaca dengan mengikuti 
bacaan dari CD dan pembacanya Hani Rifai 
karena ambitus suara saya sama dengan beliau? 



Sebagaimana para ahlul Quran bertalaqqi 
langsung kepada gurunya, gurungya bertalaqqi 

kepada gurunya lagi, sampai kepada para 
qari' dari kalangan Tabi'in, kemudian mereka 
bertalaqqi kepada qari' dari kalangan sahabat 
Rtxsul yang bertalaqqi langsung kepada Rasulullah 
SAW. Rasulullah SAWjuga bertalaqqi kepada 
Malaikat Jibril dan malaikat jibril menerima 
Al-Qur'an dari Allah SWT. 

A 



Alhamdulillah, saya senang sekali mengetahui perkembangan 
Bapak yang begitu luar biasa. Walaupun umur Bapak sudah 
lanjut, namun semangat belajar Bapak membuat orang 
seperti kami --yang boleh dibilang separuh umur Bapak- 
harus lebih semangat lagi dalam menuntut ilmu. 

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah 
SWT dalam menuju sorganya dengan menuntut ilmu ini. 
Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW : 

"Dan barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, 
maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju sorga" 
(H.R. Muslim) 

Berkaitan dengan pertanyaan pertama, bahasa Arab yang 
digunakan saat ini ada dua macam. 

Pertama, bahasa Arab Fusha (Arab Fasih), yaitu bahasa 
Arab yang terdapat di dalam Al-Qur'an, Hadits Nabi, 
dan Atsar para sahabat. Bahasa Arab Fusha ini juga 
biasa digunakan dalam penulisan kitab oleh para ulama 
Salaf sampai sekarang. Selain itu, bahasa Arab Fusha ini 
juga biasa digunakan dalam bahasa pengantar resmi di 
kampus-kampus atau universitas-univeristas Islam di 
TimurTengah. 

Jadi, jika kita paham bahasa Arab secara baik dan benar, 
maka kita akan dapat membaca dan memahami secara 
baik dan benar pula kitab-kitab yang telah ditulis para 
ulama tersebut. Kita juga akan lancar berkomunikasi 
dengan siapa pun yang menggunakan bahasa Arab Fusha. 
Bahasa Arab Fusha sampai saat ini tidak ada perubahan 
yang berarti sama sekali. 

Kedua, bahasa Arab 'Amiyah (umum atau pasaran), yaitu 
bahasa Arab yang biasa digunakan oleh orang masyarakat 
Arab dalam pergaulan sehari-hari, tanpa kaidah Ilmu 
Nahwu, Sharaf, apalagi Ilmu Balaghah. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 65 



Walaupun sebagian lafazh bahasa Arab 'Amiyah aslinya 
dari bahasa Arab Fusha, namun karena pengucapannya 
yang cepat dan disingkat, jadilah dia bahasa 'Amiyah yang 
biasa digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. 

Bahasa Arab 'Amiyah ini cakupannya sangat sempit dan 
terbantas hanya pada daerah tertentu. Misalnya, orang 
Arab Saudi jika berbicara dengan orang Mesir, Maroko, 
Yaman, atau negara-negara Arab lainnya dengan bahasa 
'Amiyah mereka masing-masing, maka bisa dipastikan 
mereka tidak akan saling memahami. 

Analoginya, di Indonesia sendiri banyak bahasa daerah. 
Antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki 
bahasa . Jika mereka berkumpul dan berbicara dengan 
menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing, 
tentunya tidak akan "nyambung". 

Lain halnya dengan bahasa Arab Fusha. Bahasa ini 
bisa digunakan di negara mana pun. Bila kita berbicara 
dengan orang Amerika, Inggris, Spanyol, Thailand, atau 
negara lainnya di belahan dunia ini yang menggunakan 
bahasa Arab Fusha, maka kita akan bisa saling memami. 

Jadi, jelas bahasa Arab yang digunakan sekarang sama dengan 
bahasa Arab Al-Qur'an, asalkan itu bahasa Arab Fusha dan 
sesuai dengan kaidah llmu Nahwu, Sharaf, dan Balahgah. 

Namun kalau Bapak membuka kamus Arab-Indonesia dalam 
mencari arti suatu kata atau kalimat, maka Bapak akan 
mendapati terjemahannya terkadang tidak pas. Mengapa 
demikian? Karena memang, satu kata dalam bahasa Arab 
dapat memiliki lebih dari satu arti, tergantung dari siyaqul 
kalam (bentukdan sususan kalimatnya). 

Dalam mempelajari Bahasa Arab, seorang pemula memang 
tidakbisameninggalkankamusArab-lndonesiaatau Indonesia- 
Arab. Namun, tetap tidak boleh lepas dari bimbingan seorang 
guru. Idealnya, dalam mencari arti dan maksud dari suatu 



66 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



kata bahasa Arab, kita menggunakan kamus Bahasa Arab 
yang berbahasa Arab pula, seperti Al-Mu'jamul Wasith. Di 
sana ada lebih dari satu pengertian dan makna, bahkan di 
situ akan diberikan contoh-contoh penggunaan kata tersebut 
dalam beberapan susunan kalimat. 

G>° Bahasa Penghuni Sorga 



Memang, bahasa yang digunakan Rasulullah SAW dalam 
kehidupannya sehari-hari adalah bahasa Arab karena beliau 
orang Arab. Dalam menyampaikan hadits dan menceritakan 
kisah-kisah orang terdahulu dan peristiwa yang akan datang, 
beliau mengungkapkannya dengan bahasa Arab. 

Apakah bahasa Arab itu adalah bahasa yang digunakan di 
akhirat? Memang, ada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi : 

"Cintailah orang Arab karena tiga hah karena aku orang Arab, 
Al-Qur'an itu berbahasa Arab, dan ucapanpendud.uk sorga 
adalah nahasa Arab" (HR. Hakim, Thabarani, dan Baihaqi). 

Kalau hadits itu bisa dijadikan sandaran, maka benar bahwa 
bahasa yang akan digunakan di sorga nanti adalah bahasa Arab. 
Namun, banyak ahli hadits menilai hadits ini Dha'if (lemah), 
bahkan sampai ke tingkat hadits Maudhu' (palsu) karena ada 
perawinya yang dianggap lemah bahkan pembohong. 

ImamDzahabimenyebutkandalamringkasankitabAI-Mustadrak: 
"Saya kira hadits ini lemah". Ibnu Al-Jauzi menyebutkan hadits 
ini dalam kitab Al-Maudhu'at (kumpulan hadits palsu). 

Namun demikian, bahasa Arab adalah bahasa termulia karena 
dia adalah bahasa Al-Qur'anul Karim, bahasa yang digunakan 
untuk kitab termulia.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 67 



a>° Belajar Al-Qur'an dari CD 



Sebenarnya boleh saja belajar membaca Al-Qur'an dengan 
mengikuti bacaan dari CD, kaset, video, atau yang semisalnya. 
Akan tetapi, jangan sampai segala sarana yang ada ini 
dijadikan satu-satunya guru dalam belajar Al-Qur'an. 

Belajar Al-Qur'an yang benar harus dengan guru. Dia dapat 
memperbaiki bila mana sang murid keliru dalam membaca 
dan melafazhkan ayat-ayat Al-Qur'an. Karena dengan talaqqi 
dan musyafaha (menerima pelajaran dengan berhadapan 
langsung) dengan gurulah cara paling benar. 

Sebagaimana para ahlul Qur'an bertalaqqi langsung kepada 
gurunya, gurungya bertalaqqi kepada gurunya lagi, sampai 
kepada para qari' dari kalangan Tabi'in, kemudian mereka 
bertalaqqi kepada qari' dari kalangan sahabat Rasul yang 
bertalaqqi langsung kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW 
juga bertalaqqi kepada Malaikat Jibril dan malaikat jibril 
menerima Al-Qur'an dari Allah SWT. 

Jadi, silakan Bapak memilih bacaan salah seorang Imam/Qari' 
terkenal dari Timur Tengah, seperti Syaikh Mahmud Khalil 
Al-Hushari, Syaikh Muhammad Siddiq Al-Minsyawi, Syaikh 
Abdullah bin Ali Bashfar, Syaikh Abdurrahman Al-Hudzaifi, 
Syaikh Su'ud Syuraim, Syaikh Abdurrahman Al-Sudais, Syaikh 
Misyari Rasyid, Syaikh Hani Rifa'i, Syaikh Sa'd Al-Ghamidi, dan 
Iain-Iain, namun sebaiknya bersama seorang guru langsung. 

Semoga Allah memudahkan segala upaya Bapak dalam 
mempelajari kitab suci-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.* 



68 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Seorang Muslim, apalagi seorang aktivis dakwah, 
hams mengedepankan sikap toleransi terhadap 
perbedaan dalam ibadah yangmasih bersifat 
furu'iyah. Jangan sampai yang dikedepankan 
hanya ingin tampil beda dan ingin menunjukkan 

seakan dia lebih "nyunnah" dan merasa lebih 
tahu, padahal masih banyak pendapat ulama lain 
yang berbeda pandangan dan memiliki dalil dan 
sandaran yang tidak kalah kuatnya. Kalau sikap 
toleransi tidak dikedepankan, maka akan dapat 
menimbulkan keresahan di kalangan umat. 



Saudaraku hamba Allah yang saya cintai karena Allah. 
Permasalahan yang Anda tanyakan adalah masalah yang 
harus dipahami setiap Muslim. Dengan pemahaman itu, bila 
ia mendapati imam shalat tidak membaca basmalah -atau 
tepatnya tidak menjaharkan (mengeraskan suara) bacaan 
basmalah, maka ia tidak akan menvonis atau mengatakan 
sang imam beda aliran, ajaran, atau bahkan yang lebih parah 
-beda aqidah. Na 'udzu billah. 

Para ulama fikih berbeda pandangan dalam menyikapi hal 
tersebut. Apakah basmalah itu ayat tersendiri yang ditulis 
setiap awal surat dalam Al-Qur'an atau hanya ditulis di awal 
Surat Al-Fatihah? 

Namun yang jelas, para ulama bersepakat, basmalah adalah 
satu ayat yang tercantum di dalam Surat Al-Naml. 

Para ulama qira'ah Makkah dan Kuffah menegaskan, basmalah 
adalah bagian dari Surat Al-Fatihah dan surat lainnya. 

Namun ulama QiraahMadinah, Bashrah, dan Syam menegaskan, 
basmalah tidak termasuk ayat, baik pada surat Al-Fatihah 
maupun surat-surat lainnya. Mereka mengatakan, basmalah 
ditulis untuk mendapatkan keberkahan dan sebagai pembatas 
antara satu surat dengan surat lainnya. 

Mereka bersandarkan pada hadits riwayat Abu Daud dengan 
sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW 
tidak mengetahui pembatas surat hingga turunlah kepada 
beliau "bismillahir rahmanir rahim." 

ctr> Basmalah Dibaca Jahar 



Para ulama juga berbeda pendapat soal apakah basmalah 
dibaca jahar (keras) atau sirr (pelan). 

Mereka yang mengatakan basmalah adalah ayat di setiap 
surat (selain surat Al-Tau bah), juga berbeda pendapat: apakah 
menjaharkan basmalah atau tidak. Ada dua pendapat : 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 71 



Pertama, basmalah tidak dijaharkan (dibaca pelan) ketika 
membaca surat Al-Fatihah. Pendapat ini didukung oleh para 
ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Al-Tausri, 
Umar, AN, Ibnu Mas'ud, Imam Ahmad bin Hambal, dan Al- 
Auza'i. Mereka mendasarkan pendapatnya pada beberapa 
hadits berikut: 

1. Aisyah berkata : "Rasulullah SAW membuka shalatnya 
dengan bertakbir dan bacaan "Alhamdulillahi Rabbil 
'Alamin" (H.R. Muslim). 

2. Anas berkata: " Aku pernah shalat (menjadi makmum) 
di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan 
Utsman. Mereka memulainya dengan "Alhamdulillahi 
Rabbil 'lamin". (H.R. Bukhari dan Muslim) 

3. Anas berkata: " Aku shalat bersama Rasulullah SAW, Abu 
Bakar, Umar, Utsman, dan aku tidak mendengarseorang 
pun dari mereka membaca bismillahir rahmanir rahim". 

Kedua, bacaan basmalah dijaharkan ketika membaca Al- 
Fatihah. Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama Madinah, 
seperti Ibnu Umar, Ibnu Syihab, juga di dukung oleh Imam 
Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka mendasarkan 
pendapatnya pada beberapa hadits berikut: 

1. Dari Abu Hurairah, bahwasanya dia shalat dan 
menjaharkan bacaan basmalah. Setelah selesai shalat 
dia pun berkata: "Sesungguhnya shalatku lebih mirip 
dengan shalat Rasulullah SAW bila dibandingkan 
dengan shalat kalian". (HR. Nasa'i dalam Sunannya, 
Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, 
dan Hakim dalam Al-Mustadrak. Dishaihkan oleh Al- 
Daraquthnu, Al-Baihaqi, dan lainnya). 

2. Dari Ibnu Abbas: Rasulullah SAW menjaharkan bacaan 
"bismillahir rahmanir rahim" (HR. Hakim dalam Al- 
Mustadrak, dan dia berkata: shahih). 



7 2 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



Sebenarnya ini adalah masalah ijtihadiyah, bukan qath'iyah 
(yang pasti kebenarannya). Sayangnya, banyak orang tidak 
memiliki kedalaman masalah fikih ikhtilaf. Akibatnya, mereka 
sampai pada tingkat mengkafirkan kaum Muslimin yang tidak 
sejalan dengan pendapat para imam madzhabnya. 

Seorang Muslim, apalagi seorang aktivis dakwah, harus 
mengedepankan sikap toleransi terhadap perbedaan dalam 
ibadah yang masih bersifat furu'iyah. Jangan sampai yang 
dikedepankan hanya ingin tampil beda dan ingin menunjukkan 
seakan dia lebih "nyunnah" dan merasa lebih tahu, padahal 
masih banyak pendapat ulama lain yang berbeda pandangan 
dan memiliki dalil dan sandaran yang tidak kalah kuatnya. 
Kalau sikap toleransi tidak dikedepankan, maka akan dapat 
menimbulkan keresahan di kalangan umat. 

Hendaknya kita juga bersikap dewasa. Menurut kami, tidak 
ada salahnya kita menjaharkan basamalah ketika mengimami 
shalat yang makmumnya mayoritas menjaharkan basmalah 
dan sebaliknya. Sikap dewasa dan toleran antarumat dapat 
mempererat ukhuwah Islamiyah. Wallahu a'lam bish- 
shawab.* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 73 



OurusOtfu TAencjfiafafflf-Qumn 



Menjaga Hafalan 
Agar Tidak Cepat Hilang 



so 



Ustadz Taufik Hamim yang dirahmati Allah. Say a salah 
seorang mahasiswa di lembaga (ma'had) pendidikan 
Islam. Salah satu materi kuliah saya adalah menghafal 
beberapa sweat dalam juz tertentu. Yang saya mau 
tanyakan: bagaimana cara menjaga hafalan agar ngga 
hilang-hilang? 



Imam Syafi'i rahimahullah tergolong ulama 
yang memiliki kecepatan dalam menghafal. 
Suatu hari ia mengadu kepada gurunya, 
Waki', karena ia mengalami kelambatan 
dalam menghafal. Sang guru lalu memberikan 

obat mujarrab, yaitu agar ia meninggalkan 
perbuatan maksiat dan mengosongkan hati dari 
setiap penghalang antara dia dan Tuhannya. 



Menjaga hafalan Al-Qur'an memang lebih berat ketimbang 
menghafalnya dari nol. Namun, jangan berkecil hati. Bila 
niat kita baik, ikhlas karena Allah, insya Allah, Dia akan 
membimbing kita dalam menghafal dan menjaga kitab 
suci-Nya. Kalau Allah ridha kepada kita, maka kita akan 
mendapatkan berbagai kemudahan. 

Berikut ini beberapa tips untuk menjaga hafalan Al-Qur'an. 

1. Pengaturan waktu 

Pandai mengatur waktu akan dapat membantu seorang 
penghafal Al-Qur'an dalam memelihara hafalannya. 
Mengatur waktu untuk mengulang-ulang hafalan yang 
senantiasa terus berkelanjutan, harus terus dilakukan 
oleh seorang penghafal Al-Qur'an. Biasakan jangan 
melewatkan waktu tanpa melakukan hal-hal yang 
bermanfaat. 

Rasulullah SAW memperingatkan, hafalan Al-Qur'an 
akan lebih cepat hilang dan lepas bila dibandingkan 
dengan seekor onta yang terikat kuat, jika dia tidak selalu 
mengulang-ulang hafalan. 

" Jagalah Al-Qur'an, demi Yangjiwaku berada di 
tangan-Nya, Al-Qur'an itu lebih cepat lepas dari hati 
penghafalnya dari pada lepasnya seekor onta dari 
ikatannya" (H.R. Bukhari) 

2. Menyediakan waktu khusus 

Dalam proses muraja'ah (mengulang) hafalan, seorang 
penghafal Al-Qur'an harus menyediakan waktu khusus, 
misalnya sebelum atau sesudah subuh, sebelum tidur, 
sebelum dan sesudah shalar fardhu. 

Siapa pun dia, bila sedang menekuni suatu pekerjaan 
dan memberikan porsi waktu khusus, maka dia akan 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 77 



mendapatkan hasil yang tidak akan mengecewakan. 
Tengoklah, bagaimana kehidupan para ulama terdahulu 
dalam pengaturan waktu. Hasilnya, mereka dapat 
mewariskan karya-karya besaryangsampai hari ini masih 
menjadi rujukan. Sebagian mereka wafat pada usai yang 
belum begitu lanjut, tetapi mereka dapat menulis dan 
menyusun banyak kitab karena pandai mengatur waktu. 

3. Wirid Al-Qur'an 

Selain menyediakan waktu khusus, seorang penghafal 
Al-Qur'an harus memperbanyak tilawah. Dia harus 
memiliki wirid Al-Qur'an yang rutin setiap hari. Usahakan 
dapat membaca Al-Qur'an minimal satu juz setiap hari 
sehingga dalam waktu 30 hari (satu bulan), Anda akan 
khatam tilawah Al-Qur'an. Sering membaca Al-Qur'an 
akan dapat memudahkan seseorang dalam menghafal 
Al-Qur'an. 

4. Menjadi Imam Shalat 

Hafalan Anda akan selalu melekat dalam ingatan jika 
selalu Anda baca dalam shalat, khususnya saat shalat 
malam atau Qiyamullail. Terlebih saat menjadi imam 
shalat tarawih di suatu masjid, dengan syarat pengurus 
dan jamaah masjid itu tidak merasa keberatan jika sang 
iman membaca satu juz untuk setiap malamnya. 

5. Mengajarkan orang lain 

Salah satu cara paling efektif dalam menjaga hafalan 
adalah mengajari orang lain. Saat mendengarkan hafalan 
muridnya, maka secara tidak langsung dia pun sedang 
mengulang-ulang hafalan. 



78 gurus' %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Mendengarkan bacaan orang lain 

Banyak mendengar bacaan Al-Quran akan memudahkan 
kita menghafal dan menguatkannya dalam ingatan. 
Buatlah kesepakan dengan teman Anda yang sedang 
menghafal Al-Qur'an untuk saling menyimak. Dengan 
begitu, bila Anda atau teman Anda keliru dalam membaca, 
maka saat itulah Anda berdua saling mengoreksi. 

Mendengarkan kaset atau CD Al-Qur'an 

Pilihlah salah satu bacaan syaikh terkenal yang 
tilawahnya tersebar di seluruh dunia dan cenderung 
diminati lagunya dalam membaca Al-Qur'an, seperti 
Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari, Syaikh Muhammad 
Siddiq Al-Minsyawi, Syaikh Abdullah bin AN Bashfar, 
Syaikh Abdurrahman Al-Hudzaifi, Syaikh Suud Syuraim, 
Syaikh Abdurrahman Al-Sudais, dan Iain-Iain. 

Membaca sejarah para penghafal Al-Qur'an 

Untuk memberikan motivasi dan semangat baru, 
Anda juga harus membaca perjalanan para ulama dan 
orang-orang yang hafal Al-Qur'an. Anda akan dapat 
mengambil pelajaran dari pengalaman mereka serta 
dapat memperbaharui semangat Anda. 

Biasakan membaca tanpa melihat Mushaf 

Biasakan mengulang hafalan tanpa melihat mushaf. Jika 
membaca hafalan selalu melihat mushaf, maka akan ada 
ketergantung selalu ingin melihatnya. Kecuali apabila 
Anda sudah tidak dapat melanjutkan bacaan, maka Anda 
boleh melihat mushaf. 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 79 



10. Menjauhi kemaksiatan 

Jiwa yang selalu berlumuran kemaksiatan dan dosa, sulit 
untuk menerima cahaya Al-Qur'an. Hati yang tertutup 
disebabkan dosa-dosa tidak mudah menerima kebaikan 
dan mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an 

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran 
ataukah hati mereka terkunci?" (Q.S. Muhammad : 24). 

Imam Syafi'i rahimahullah tergolong ulama yang memiliki 
kecepatan dalam menghafal. Suatu hari ia mengadu 
kepada gurunya, Waki', karena ia mengalami kelambatan 
dalam menghafal. Sang guru lalu memberikan obat 
mujarrab, yaitu agar ia meninggalkan perbuatan maksiat 
dan mengosongkan hati dari setiap penghalang antara 
dia dan Tuhannya. Imam Syafi'i rahimahullah berkata: 

Aku mengadu kepada (guruku) Waki' atas buruknya 
hafalanku 

Maka diapun memberiku nasihat agar aku meninggalkan 
kemaksiatan 

Dia memberitahuku bahwa ilmu itu adalah cahaya 

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang 
yang bermaksiat. 

Wallahu a'lam bish-shawab. * 



80 %rus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Umur 66 Ta 
Bisa Hafal Quran? 



Usiasayasekarang66tahun. Saya ingin mendalami Islam 
hingga akhirhayat. Tetapi masa lalu sayapenuh dengan 
sekuler, belajar teknologi komputer, belajar bahasa 
Inggris, Belanda. Mendalami bidangmanajemen. Sangat 
sedikit berkaitan dengan Islam, walaupun sentuhan 
selalu ada melalui sholat (yang sholatnya compang- 
camping), membaca buku-buku tentang Islam (tidak 
mendalam), dan cinta kepada Islam. Pertanyaannya: 
bisakah orang seperti saya belajar menghafal Al-Quran 
dan mengerti kandungan isinya? 



"Dan sungguh telah kami mudahkan Al- 
Qur'an untuk diingat, maka adakah orang 
yang mengambil pelajaran?" 

QS Al-Qamar: 54 



n 



Bersyukurlah Bapak karena telah mengetahui banyak ilmu 
seperti yang Bapak sampaikan di atas. Insya Allah, ilmu yang 
pernah Bapak pelajari tidakakan sia-sia, selagi Bapakgunakan 
untuk memajukan agama Islam yang mulia ini. 

Subhanallah, saya sangat bangga dan senang dengan 
keinginan Bapak yang sudah berusai lanjut untuk menghafal 
dan mengerti isi Al-Qur'an. Siapa pun dia, anak-anak, remaja, 
dewasa, atau berusia lanjut, laki-laki dan wanita, bila memiliki 
keinginan kuat dalam melaksanakan suatu pekerjaan dan 
diringi denga niat ikhlash, insya Allah kemudahanlah yang 
akan dia dapati, terlebih keinginan itu berupa hafal Al-Qur'an. 
Allah SWT mengulang firman-Nya sampai empat kali di dalam 
surat yang sama, yaitu surat Al-Qamar, surat ke-54. 

"Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Qur'an untuk diingat, 
maka adakah orangyang mengambil pelajaran?" 

Di suatu wilayah di Jakarta Timur, ada seorang ibu 
berusia lebih dari 50 tahun. Dalam waktu sekitar 5 tahun, 
alhamdulillah, ia berhasil menghafal Al-Qur'an 30 juz, bukan 
juz 30. Tentunya, ada beberapa tahapan yang dilalui sang ibu, 
di antaranya mulai dari memperbaiki tilawah (bacaan) Al- 
Qur'an sampai ke tingkat menghafal setelah mendapat izin 
dari pembimbingnya. 

Siang malam, sang ibu selalu membaca, menghafal, dan 
mengulang-ulang bacaan ayat-ayat Al-Qur'an. Bahkan, sambil 
memasak pun ia menyempatkan diri untuk melantunkan 
ayat-ayat Al-Qur'an. 

Ada satu contoh lain di wilayah Jawa Timur. Sekitar tahun 90- 
an, ada seorang nenek yang hafal Al-Qur'an 30 juz setelah 
ia merutinkan dirinya khatam Al-Qur'an setiap bulan. Tak 
terasa, ternyata tanpa disangka, ia dapat membaca ayat-ayat 
Al-Qur'an tanpa harus melihat mushaf Al-Qur'an. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 83 




Oleh karenanya, baik sekali jika Bapak banyak membaca 
buku-buku yang berkaitan dengan menghafal Al-Qur'an, di 
antaranya buku Kiat Sukses Menjadi Hafizh Da'iyah karya Ust. 
Abdul Aziz Abdurrauf Al-Hafizh, Lc, MA hafizhahullah. 

Untuk mengerti kandungan atau isi Al-Qur'an, tentunya juga 
mudah, sama mudahnya dengan menghafal Al-Qur'an. Ketika 
Allah SWT memudahkan Al-Qur'an untuk dihafal, di situ pula 
Dia akan memudahkan kita dalam memahami kandungannya. 
Banyak terjemahan dan tafsir Al-Qur'an yang mudah kita 
peroleh, namun alangkah baiknya bila kita memiliki perangkat 
utama dalam memahami Al-Qur'an, yaitu bahasa Arab. 

Bahasa Arab juga mudah dipelajari dan perlu. Dikatakan 
mudah karena betapa banyak orang non-Arab yang sukses 
menuntut ilmu sehingga banyak di antara mereka menjadi 
guru bagi orang Arab yang berlidah asli Arab. 

Oleh karenanya, banyak bergaulah dengan orang-orang yang 
selama ini selalu berinteraksi dengan Al-Qur'an. 

Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam menghafal, 
memahami, serta mengamalkan Al-Qur'an. Amin. Wallahu 
a'lam bish-shawab.* 



84 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Cara Tepat 
Mengajari Anak so 
HaJal Al-Q uran 



Bagaimana cara yang tepat dalam mengajari anak 
untuk mengahafal Al-Qur'an? Saya bercita-cita agar 
anak saya (laki-laki) bisa menghafal Al-Quran. Saya 
pun memasukkan anak saya ke sekolah yang salah satu 
kurikulumnya hafalan Quran hingga 18 juz (s.d. tamat 
SD) dan Arabic. Subhanalloh, saya sempat bingung, 
apakah bisa tercapai target atau tidak? 
Saya dan suami bekerja. Terkadang saya tidak sempat 
memmonitor pelajaran tahfiznya. Jujur saya katakan, 
sepertinya pelajaran tersrbut berat bagi anak saya. 
Untuk itu, mohon sarannya. Mohon maafbila ada kata- 
kata yangg kurang berkenan. Atas perhatian Ustadz, 
saya ucapkan banyak terimakasih. 



"Dan sungguh telah kami mudahkan Al- 
Qur'an untuk diingat, maka adakah orang 
yang mengambil pelajaran?" 

QSAl-Qamar: 54 



Insya Allah, siapa pun yang ingin menghafal Al-Qur'an atau 
belajar bahasa Arab dengan serius, sungguh-sungguh, pasti 
Allah SWT akan berikan kemudahan kepadanya. Allah SWT 
sudah menjamin hal itu di dalam Q.S Al-Qamar sampai 
berulang empat kali. 

Memang, idealnya orangtua di rumah menjadi guru terbaik 
dalam mengajarkan Al-Qur'an, bila keduanya memiliki bacaan 
atau hafalan yang baik. Hal itu bisa dilakukan ba'da Magrib 
atau ba'da Subuh, walau sedikit yang panting rutin. 

Namun, bila ibu dan suami sibuk, tetapi berkeinginan memiliki 
anak yang hafal Al-Qur'an dan bahasa Arab yang baik, maka 
ibu bisa mencari rguru privat yang memiliki kemampuan 
yang cukup tentang kedua mata pelajaran tersebut. Fasilitasi 
pula anak ibu dengan kaset atau CD Al-Qur'an. Semoga Allah 
SWT berikan kemudahan dan harapan ibu dan suami dapat 
terwujud. Amin.* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 87 



OurusOtfu "MmjfiafafAf-Clumn 



Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas 
batu dan belajar di usia lanjut bagaikan mengukir 
di atasa air. Anak kecil bagaikan kaset kosong siap 
diisi dan menerima apa saja, yang baik ataupun 
yang buruk, dan itu akan terekam kuat dalam 
J ", memorinya. Oleh karenanya, orangtua hams 
berusaha seoptimal mungkin dalam memanfaatkan 

masa ini bagi anaknya agar waktu yang ada 
dapat dilalui dengan berbagai aktivitas positifdan 
bermanfaat bagi anak di masa mendatang. 



Mendidik anak sejak sejak dini adalah kewajiban kita 
sebagai orangtua. Anak adalah amanah yang Allah SWT 
bebankan kepada kita. Salah satunya adalah bagaimana 
kita mengajarkan Al-Quran kepada anak kita. Dalam hal ini 
kita ingin sekali anak kita dapat menghafal Al-Quran dan 
memulainya sedini mungkin. 

Namun, karena belum terbiasa menghafal Al-Quran, 
terkadang seorang ayah atau ibu agak "bingung" bagaimana 
bisa meraih kemuliaan agar anaknya kelak bisa menghafal 
Al-Quran. Bagi orangtua yang memiliki kemampuan dan 
sudah terbiasa menghafal Al-Quran, insya Allah tidak akan 
mengalami banyak kesulitan dalam membimbing sang buah 
hati untuk meraih cita-cita mulianya -menghafal Al-Quran. 

Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu dan 
belajar di usia lanjut bagaikan mengukir di atasa air. Anak 
kecil bagaikan kaset kosong siap diisi dan menerima apa 
saja, yang baik ataupun yang buruk, dan itu akan terekam 
kuat dalam memorinya. Oleh karenanya, orangtua harus 
berusaha seoptimal mungkin dalam memanfaatkan masa 
ini bagi anaknya agar waktu yang ada dapat dilalui dengan 
berbagai aktivitas positif dan bermanfaat bagi anak di masa 
mendatang. 

Jangan Tergesa-gesa 



Ketika mulai mengajarkan anak menghafal Al-Quran, 
usahakan jangan tergesa-gesa supaya anak cepat hafal ayat 
atau surat yang baru satu atau dua kali dia baca. Hafalan 
yang baik akan didapatkan dengan cara membaca berulang 
kali ayat-ayat atau surat yang akan kita hafal. Paling tidak, 
kita dapat membacakannya minimal tujuh kali. Setelah kita 
merasakan ayat-ayat yang baru saja kita bacakan tadi telah 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 91 



melekat di dalam memori anak kita, barulah boleh pindah ke 
ayat atau surat berikutnya. 

Mungkin tidak sedikit anak yang sudah mandiri (menghafal 
sendiri). Setelah membaca dua sampai tiga kali sebuah ayat, 
ia merasa sudah menghafalnya. Setelah itu, ia pun mencoba 
pindah ke ayat berikutnya karena ingin segera menghafal ayat 
lain, padahal dia belum menghafalnya dengan baik. Maka di 
sini peran seorang guru Al-Quran, dalam hal ini orangtua yang 
mengajarkannya di rumah agar mengarahkannya dengan 
baik, supaya jangan pindah ke ayat lain kecuali bila diyakini si 
anak benar-benar telah hafal. 

Menghafal dengan tergesa-gesa sebenarnya tidak dapat 
dibenarkan dalam proses menghafal Al-Quran. Cara 
menghafal demikian tidak akan membuahkan hasil 
memuaskan. Menghafal sedikit-sedikit lebih baik daripada 
banyak tetapi terputus. Menghafal dengan tergesa-gesa akan 
mengakibatkan cepat lupa. 

ft* Menghafal Surat Pendek 



Mulailah dari surat-surat pendek yang terdapat di dalam 
Juz 'Amma atau juz 30. Selain lebih mudah menjelaskan isi 
atau kandungannya dalam bentuk cerita, surat-surat pendek 
itu juga lebih sering dibaca, khususnya oleh imam shalat di 
masjid-masjid dan di mushalla-mushalla, sehingga anak 
tidak akan menghadapi banyak kesulitan ketika menghafal 
nanti. 

rtr Buat Target 



Dalam menghafal Al-Quran, merencanakan target tertentu 
tidak bisa lepas dalam proses menghafal. Walaupun 



92 Omu Oitu TvfenjLfJ Af-Qu 



sebenarnya penentuan target hafalan adalah suatu yang 
relatif karena setiap anak memiliki kemampuan yang 
berbeda-beda dalam menghafal. Namun, untuk memberikan 
kemudahan kepadanya dan agar lebih terarah, memang 
harus ada perencanaan target tertentu. Maka dalam waktu 
sebulan hasilnya akan kelihatan berapa ayat atau surat yang 
akan dicapai oleh si anak. 

Usahakan target hafalan tidak terlalu banyak, harus 
disesuaikan dengan kemampuan daya serap dan hafal si anak, 
sehingga anak akan merasakan bahwa menghafal Al-Quran 
itu mudah dan menyenangkan. Bila dinilai anak sudah mulai 
menyukai hafalan dan prestasinya bagus, maka bisa saja 
targetnya dinaikan. Mungkin yang tadinya ditargetkan dalam 
sepekan anak dapat menghafal setengah halaman misalnya, 
maka target itu bisa dinaikan menjadi satu halaman di bulan 
berikutnya. 

Kalau rata-rata setiap satu juz Al-Quran itu 10 lembar atau 
20 halaman, maka 30 juz berjumlah 600 halaman. Berarti, 
bila anak dapat menghafal secara kontiniu setiap pekan satu 
halaman, maka dalam tempo satu tahun atau sekitar 48 
pekan ia akan menghafal sebanyak 48 halaman atau sekitar 
2,5 juz. 

Bila jawaban singkat ini masih kurang memuaskan, silakan 
berkonsultasi langsung via chating dengan meng-add ID saya 
ibnu_hekh@yahoo.com.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 93 



OurusOtfu TAencjfiafafflf-Qumn 



Tahf izh Untuk 
Anak Empat Taliun 



#1 



: ig 

Anak ana 4 tahun. Bagaimana metode tahfidz yang 
tepat untuk anak usia 4 tahun karna dia cenderung 
lebih cepat menerima ketika guru yang mengajarkan 
tapi ketika ana yang membimbing kog mandek? 
Jazakumullah 

r* 



95 



Tanamkan pada diri anak kita tentang 
keagungan, kemuliaan Al-Quran dengan 
pendekatan dan cara yang menyenangkan dan 
bisa dip ah ami olehnya. 



Orangtua adalah guru ideal dalam mengajarkan anak -- 
dalam hal ini mengajarkan tahfizh Al-Quran. Namun, banyak 
orangtua yang tidak mampu melakukannya karena banyak 
hal, seperti sibuk bekerja, tugas dakwah yang begitu padat, 
kurang pandai membaca Al-Quran dan belum berpengalaman 
menghafal Al-Quran walau hanya Juz 'Amma. Hal itu akan 
mendorong mereka untuk menyerahkan anaknya ke tempat 
atau lembaga tahfizh Al-Quran atau memanggil seorang guru 
ngaji atau private Al-Quran. 

Sebenarnya cara demikian boleh saja dilakukan karena cara ini 
pernah dilakukan oleh orang terdahulu. Di antaranya adalah 
yang dilakukan oleh seorang khalifah terkenal, Harun Al- 
Rasyid. la memanggil guru yang alim yang memiliki berbagai 
macam disiplin ilmu untuk mengajarkan tahfizh Al-Quran. 

fb° Metode bagi Anak Usia 4 Tahun 



Ada beberapa metode yang harus diperhatikan oleh guru 
atau orangtua yang akan mengajarkan anak usia 4 tahun. 

Pertama, jangan lupa dan jangan bosan untuk selalu dan 
terus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudah 
dalam mendidik anak-anak kita. Kita berdoa dan berusaha 
menjadikan mereka cinta dan hafal Al-Quran. 

Kedua, kalau belum mempu mengajarkan langsung, pilihlah 
seorang guru yang kita yakini dapat mengajarkan tahfizh Al- 
Quran. 

Ketiga, talqinkan (perdengarkan) secara berulangan-ulang 
ayat-ayat Al-Quran hingga si anak menjadi akrab dengan ayat- 
ayat tersebut dan pada akhirnya dia mampu menghafalnya. 

Di samping itu, bisa juga dikenalkan huruf hijaiyyah. Ajarkan 
anak membaca dan menulis huruf Al-Quran dengan metode- 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 97 



metode yang selama ini digunakan dan dianggap lebih praktis 
dan mudah. Dengan demikia, suatu saat anak kita dapat 
menghafal mandiri dengan melihat mushaf dan mengulang 
(murajaah) hafalannya sendiri. 

Keempat, tanamkan pada diri anak kita tentang keagungan, 
kemuliaan Al-Quran dengan pendekatan dan cara yang 
menyenangkan dan bisa dipahami olehnya. 

Kelima, usahakan memasukkan anak kita pada Halaqat Al- 
Quran, baik di masjid, mushalla, maupun di lembaga tahfizh 
Quran. Yang demikian itu akan membuat anak merasakan 
banyak anak seusianya yang juga memiliki aktivitas yang 
sama (menghafal Al-Quran). 

Keenam, gunakan tape recorder atau yang sejenis untuk 
memperdengarkan Al-Quran, terutaman surat-surat pendek. 
Ajak anak kita untuk menyimak dan mengikutinya. Ulangi 
beberapa kali hingga dilihat anak sudah dapat mengikuti 
lantunan ayat-ayat Al-Quran tersebut. 

Jadikan anak kita menyenangi proses itu dengan tidak ada 
unsur pemaksaan. Kalau dia menyenangi semua proses 
yang kita lakukan, maka yang akan kita dapatkan adalah 
kemudahan dalam mendidiknya untuk menghafal Al-Quran. 

Ketujuh, usahakan selalu mengajak anak kita ke masjid 
atau mushala agar dia dapat terbiasa untuk melaksanakan 
shalat berjamaah di masjid dan juga agar dia dapat terbiasa 
mengulang-ulang hafalannya, apalagi biasanya para imam 
membaca surat-surat pendek sehingga anak akan akrab 
dengan bacaan Al-Quran. 

Yang tidak kalah pentingnya adalah orang tua atau guru Al- 
Quran banyak membaca tentang psikologi dan pendidikan 
anak, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mendidik 
anak untuk bisa terbiasa menghafal Al-Quran sejak dini. 



98 Ourus Oitu TAentjUfd flf- Qu 



a>° Guru Lebih Disukai daripada Orangtua 



Memang, banyak anak lebih menyukai dan lebih mendengar 
nasihatdanpelajaranseoranggurudibandingkanorangtuanya 
sendiri. Namun, kita jangan putus asa atau berkecil hati 
dulu. Kalau kita memiliki kemampuan dalam mengajarkan 
Al-Quran, maka kita sebagai orangtua juga dapat berperan 
sebagai seorang guru. 

Jangan lupa, biasanya anak-anak itu menyukai hadiah. Sekecil 
apa pun hadiah yang kita berikan akan sangat berkesan sekali 
di hati mereka. Jadi, kita bisa mulai mengadakan pendekatan 
dengan menjajikan hadiah bila ia mau belajar kepada kita, 
terutama sekali jika anak kita mencapai target yang sudah 
disepakati bersama. Selain itu, berikan sanjungan dan pujian 
bila anak kita dapat menyelesaikan hafalan tertentu. 

Yang tidak kalah pentingnya, konsultasikan perihal anak 
kita kepada guru yang mengajarkannya di sekolah. Dengan 
demikian, kita bisa berperan seperti gurunya di sekolah dan 
pada akhirnya anak kita juga menyukai pengajaran yang 
diberikan orangtuanya di rumah. 

Setelah kita melakukan semua upaya di atas, bersabarlah 
akan semua proses yang kita lalui. Hanya kepada Allah SWT 
kita bertawakkal. Hasbunallahu wani'mal Wakil.* 



OurusWulvlengfiafafAf-Qumn 99 



100 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Mengkaf al Q 
Susah Banget 



Ustadz, ana ikhwan berumur 18 tahun.Ana baru 
belakangan ini mencoba untuk belajar mengenai Islam 
dan Al-Qur'an. Ana coba untuk memnghafalnya, koq 
susah banget ustad? Tapi kalo ana denger musik di 
TV, mudah sekali untuk mengingatnya. Ane kepengen 
bisa hafal Al-Quran, walaupun hanya beberapa surat. 
Bagaimana caranya agar ane bisa lancar menghafal 
Al-Quran? Mohon balasannya. 



Mengapa mendengarkan lagu yang diiringi 
musik itu lebih mudah diingat? Bisa jadi, selama 
ini telinga kita lebih sering mendengarkan 
musik sehingga telinga kita ini lebih peka dan 
akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang 
lantunan ay at-ay at suci Al-Quran. Jadi wajar 
saja kalau menghafalkan lagu lebih mudah 
ketimbang meghafal Al-Quran. 



Alhamdulillah, saudaraku yang dirahmati Allah SWT, patut 
Anda syukuri karena Anda memiliki kesempatan belajar 
Islam dan Al-Quran pada usia muda. Belajar Al-Quran dan 
berusaha menghafalnya dalam usia dini sangat bagus. Usia 
18 tahun sebenarnya juga termasuk usia yang boleh dibilang 
sangat potensial untuk menghafal Al-Quran. 

Menghafal Al-Qur'an adalah pekerjaan yang amat mulia dan 
sangat mudah. Kenapa demikian? Karena sudah ada jaminan 
dari Allah SWT. 

Hal itu sering saya sampaikan dalam beberapa kesempatan. 
Coba perhatikan firman Allah SWT: 

"Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk 
diingat, maka adakah orangyang mengambil pelajaran?" (QS. 
Al-Qamar/54 : 17, 22, 32, 40). 

Ayat tersebut sampai empat kali diulang-ulang dalam surat yang 
sama. Dalam bahasa Arab, kalau ada kata yang diulang-ulang, 
maka pengulangan itu bertujuan menegaskan sesuatu, dalam 
hal ini bahwa Al-Qur'an mudah dipelajari, diingat, dan dihafal. 

Mengapa mendengarkan lagu yang diiringi musik itu lebih 
mudah diingat? Bisa jadi, selama ini telinga kita lebih sering 
mendengarkan musik sehingga telinga kita ini lebih peka dan 
akrab dengan musik atau nyanyian ketimbang lantunan ayat- 
ayat suci Al-Quran. Jadi wajar saja kalau menghafalkan lagu 
lebih mudah ketimbang meghafal Al-Quran. 

Sebenarnya, para ulama banyak sekali memberikan tips, cara, 
metode atau tahapan yang harus dilalui oleh orang yang akan 
menghafal Al-Quran, di antaranya: 

Pertama: niat ikhlas karena Allah SWT semata. Jangan 
sampai ada niat mendapat berbagai kenikmatan dunia 
yang barang tentu sangat tidak sebanding dengan 
kenikmatan di akhirat kelak. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 103 



Kedua: jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT agar 
kita selalu mendapatkan kemudahan dalam menghafal 
Al-Quran. Ketika kita berdoa, kita harus yakin bahwa doa 
kita diijabah. 

Ketiga: kesalehan pribadi. Dalam menghafal Al-Quran, 
faktor kesalehan ini tidak bisa disepelekan karena dengan 
kesalehan ini Allah SWT akan mengajarkan apa yang kita 
ingikan. Dia akan memudahkan kita dalam menghafal Al- 
Quran. 

Imam Syafi'i, yang terkenal sebagai ulama yang memiliki 
kecepatan dalam mengafal, pernah dengan tidak 
sengaja melihat kaki bagian bawah seorang wanita. 
Hal itu membuat hafalannya menjadi buruk. la pun 
segera mengadu kepada guru. Setelah itu, sang guru 
memberikan nasihat agar dia meinggalkan maksiat. Ilmu 
itu cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang 
yang selalu bermaksiat. 

Keempat: dalam menghafal Al-Quran, jangan sampai 
meninggalkan wirid tilawah Al-Quran harian. Jangan 
sampai karena kita sibuk menghafal, malah meninggalkan 
wirid tilawah harian kita. Manfaatnya adalah ketika kita 
sering dan banyak membaca Al-Quran, maka pada saat 
kita menghafal suatu ayat atau surat Al-Quran, kita akan 
mendapatkan banyak kemudahan karena sebelumnya 
kita sudah sering membacanya. 

Kelima: kalau ingin hafalan kita bagus dan lacar, maka kita 
harus memperlakukan surat-surat yang sudah kita hafal 
seperti orang mengahafal surat Yasin, surat Al-Kahfi, dan 
surat-surat lainnyayangseringdibacaorangsetiappekannya 
atau pada moment-moment tertentu. Seperti halnya surat 
Al-Fatihah, mungin saja seandainya kita membaca surat Al- 
Fatihah ini sambil berlari pun tidak akan salah karena kita 
setiap hari membacanya minimal 17 kali. 



104 OurusOifu'Meryfuifaffif-Qu 



Keenam: usahakan kita juga membacanya dalam shalat. 
Manfaatkan waktu shalat-shalat sunnah, seperti shalat 
malam atau Qiyamullail, dan shalat-shalat sunnah 
lainnya. 

SayasarankankepadaAndauntukmembaca-bacakembali 
jawaban saya pada konsultasi sebelumnya. Semoga 
jawaban singkat ini dapat memberikan pencerahan 
sekaligus motivasi dalam menghafal Al-Quran. Amin ya 
Rabbal 'alamin. Wallahu a'lam bishshawab.* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 105 



106 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



Kiat Mengkaf al 
Surat^Surat Pendek 



so 



C 



Pak ustad, gimana cara cepat hafal surat-surat pendek'. 



Kalau seseorang sudah memiliki niatyang kuat 
untuk menghafal Al-Qiiran, maka tidak ada 
yang dapat menghalanginya. Salah satu cara 
I 1 untuk menghafal Al-Quran adalah memulainya 
dengan surat/ayat yang lebih mudah untuk 
dihafal, seperti surat-surat pendek. Selain 
memang ayatnya pendek-pendek, surat-surat itu 
juga sering dibaca para imam shalat, terutama 
para imam yang tidak memiliki banyak hafalan. 



Kalau seseorang sudah memiliki niat yang kuat untuk 
menghafal Al-Quran, maka tidak ada yang dapat 
menghalanginya. Salah satu cara untuk menghafal Al-Quran 
adalah memulainya dengan surat/ayat yang lebih mudah 
untuk dihafal, seperti surat-surat pendek. Selain memang 
ayatnya pendek-pendek, surat-surat itu juga sering dibaca 
para imam shalat, terutama para imam yang tidak memiliki 
banyak hafalan. 

Ada banyak cara menghafal surat-surat pendek, di 
antaranya: 

1. Perbanyak mendengar sebelum memulai menghafal, 
bisa dengan kaset murattal atau mendengarnya dengan 
khusyu' dari para imam shalat dalam shalat Maghrib, 
Isya, dan Subuh. 

2. Perbanyak membaca surat-surat pendek tersebut 
sehingga ketika kita mulai menghafalnya maka lidah kita 
sudah akrab dengannya. Setelah kita yakin benar surat- 
surat tersebut sudah kita hafal, baru kemudian pindah 
ke surat berikutnya. 

3. Jangan lupa untuk membacanya di hadapan seorang 
teman yang bacaan atau hafalan Al-Qurannya lebih 
baik dari kita atau seorang guru tahfizh Al-Quran untuk 
menyimak hafalan kita. Hal itu harus kita lakukan untuk 
menghindari salah baca dan salah menghafal. 

4. Lakukan pengulangan (muraja'ah) secara teratur, 
terutama kita baca dalam shalat lima waktu atau dalam 
shalat sunnah. 

5. Usahakan membaca hafalan sesuai dengan urutan yang 
tercantum di dalam Al-Quran, misalnya kita membaca 
surat Al-Qari'ah, At-Takatsur, kemudian surat AI-'Ashr, 
terus sampai surat An-Nas. 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 109 




Demikian jawaban saya. Mudah-mudahan setelah kita 
mampumenghafalsurat-suratpendektersebut,membuatkita 
tertarik untuk menghafal surat-surat panjang sehingga kita 
dapat merasakan nikmatnya menghafal Al-Quran. Wallahul 
Musta'an.* 



110 Oma Oifu TAenyUfal Af-Qu 



Kalau kita ingin paham literatur Islam yang 
I j|| asli, paham ajaran Islam dengan baik, maka 
j| modal dasarnya bahasa Arab yang wajib kita 
I pelajari ini. Tidak mustahil, kalau kita belajar 

dengan seungguh-sungguh, maka sebagai 
| Muslim non-Arab, kita dapat mengungguli 
i| kefasihan berbahasa Arab orangArab sekalipun, 

sang pemilik lidah asli Arab. 
I ^ 



Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'anul Karim, bahasa 
Kitabullah. Allah SWT berfirman : 

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk 
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". 
(Q.S. Al-Qamar/54 : 17, 22, 32, 40). 

Allah SWT telah memudahkan Al-Qur'an untuk dibaca, 
dipelajari, dihafal, diajarkan, dipahami, dan diamalkan. 
Dia telah memudahkan semua sarana dan jalan untuk 
mempelajari Al-Qur'an, sedangkan Al-Qur'an itu berbahasa 
Arab. Dengan demikian, mempelajari bahasa Arab bukanlah 
sesuatu hal sulit seperti anggapan banyak orang. 

Mungkin, banyakorangengganbelajar bahasa termuliainidan 
berusaha membela dirinya dengan 1001 alasan. Mari jauhi 
ucapan yang sering terdengar di telinga kita: "Sesungguhnya 
bahasa Arab itu susah". 

Kita, umat Islam, hidup pada era globalisasi dan era Al- 
Ghazwil Fikri wa Al-Ghazwits Tsaqafi (perang pemikiran 
dan kebudayaan). Musuh kita adalah musuh agama, musuh 
Islam, musuh bahasa Arab. Mereka tidak akan berhasil 
memerangi kita dengan kekuatan militer. Namun, mereka 
ingin menjauhkan kita umat Islam dari bahasa Arab, bahasa 
Al-Qur'anul Karim. 

Jika seorang Muslim meninggalkan bahasa Arab, maka ia 
tidak dapat memahami Al-Qur'an dengan benar. Jika seorang 
Muslim menjauhi bahasa Arab, maka misi musuh-musuh 
Islam telah berhasil. 

Sekali lagi, jangan pernah mendengarkan ucapan orang-orang 
yang dengki dengan kemajuan Islam yang begutu pesat, 
bahwa bahasa Arab itu "susah, ketinggalan zaman, bahasa 
orang padang pasir, dan sebagainya", jugwa bahwa kaidah 
Nahwu dan Sharaf sangat susah dipelajari, baca tulisan Arab 
aja susah, apalagi menulis, dan mengucapkannya". 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 113 



a>° Orang Arab Belajar Santa Non-Arab 



Mari kita ingat-ingat kembali, siapakah ulama paling terkenal 
dalam llmu Nahwu dan Sharaf? Jawabnya: Sibawaeh. Nama 
ini sangat akrab di kalangan santri di pesantren-pesantren 
dan mahasiswa di kampus-kampus Islam khususnya di Timur 
tengah. 

Siapakah Sibawaeh? Dari mana asalnya? Apakah ia orang 
Arab? 

Sibawaeh bukan orang Arab, melainkan orang Persia asli, 
non-Arab. Lidah dan dialek bahasa orang Persia tidak akrab 
dengan bahasa Arab dan sangat jauh dari sentuhan bahasa 
Al-Qur'an. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang begitu 
akrab dengan nuasa kearaban. Bahkan, banyak kata atau 
istilah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab yang sangat 
sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Sibawaeh telah meletakkan kaidah-kaidah llmu Nahwu, 
banyak mengajar para ulama dan orang Arab. 

Siapa di antara kita yang tidak pernah mendengar nama 
Imam Bukhari? la telah menyusun kitab hadits paling shahih. 
Apakah dia orang Arab? Bukan. Bukhari orang Bukhara, 
Samarkand, Asia Tengah. 

Imam Tirmidzi, ahli hadits penyusun kitab Sunan Tirmidzi, 
juga bukan orang Arab. Namun banyak orang Arab belajar 
kepadanya. 

Mari kita ingat kembali, siapakah ulama asal Banten Jawa 
Barat yang populeritasnya sangat mendunia itu? Benar, 
dialah Syeikh Nawawi Al-Bantani. la banyak menulis syarah 
kitab yang semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Kerena 
banyak menghasilkan karya, maka ia digelar sebagai Imam 
Nawawi Tsani (Imam Nawawi Kedua). 



114 OurusOitu 'MenjLfafAf-Qu 



Masih segudang orang non-Arab seperti mereka. Ringkasnya, 
banyak orang non-Arab yang mampu berbahasa Arab dengan 
baik, bahkan mengungguli orang orang Arab itu sendiri. 

Jadi, setelah kita mengetahui banyak orang atau ulamatersohor 
bukan orang Arab namun fasih berbahasa Arab, jangan ada 
lagi kata-kata bahasa Arab itu susah dan sebagainya. 

Bahasa Arab Itu Mudah 



Bahasa Arab itu mudah dipelajari dan perlu, bahkan wajib 
dipelajari. Ketika kita ingin memahami Al-Qur'an secara baik, 
maka perangkat utamanya adalah bahasa Arab. 

Sebagai hamba Allah SWT, tentunya kita yakin sekali akan 
janji-Nya yang akan memelihari dan menjaga Al-Qur'an 
hingga kiamat. 

"Sesungguhnya kamiyang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an) 
dan Kami pula yang akan memeliharanya" (Q.S. Al-Hijr/15 : 9). 

Allah SWT akan memelihara Al-Qur'an dapat dimaknai juga 
sebagai jaminan dari-Nya akan kemudahan bahasa Arab 
sebagai penunjang untuk memahami Al-Qur'an. 

"Dan sesugguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk 
pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". 
(Q.S. Al-Qamar/54 : 17,22,32,40) 

Jadi, kalau kita ingin paham literatur Islam yang asli, paham 
ajaran Islam dengan baik, maka modal dasarnya bahasa Arab 
yang wajib kita pelajari ini. Tidak mustahil, kalau kita belajar 
dengan seungguh-sungguh, maka sebagai Muslim non-Arab, 
kita dapat mengungguli kefasihan berbahasa Arab orang Arab 
sekalipun, sang pemilik lidah asli Arab. Wallahul Musta'an.* 



Ourus Jifu TrfenjdafafAf-Cluran 115 



fb* Ketika Orang Arab Salah Berbahasa Arab 



Judul di atas bukan untuk merendahkan siapan pun. Judul 
itu dibuat hanya sebagai motivasi bagi siapa pun, orang Arab 
ataupun non-Arab, khususnya bagi mereka yang selama ini 
menghadapi kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab. 

Salah dalam menggunakan bahasa Arab merupakan hal 
biasa. Yang penting, kita harus memiliki azam kuat untuk 
terus belajar. Tapi mengapa ada orang Arab salah dalam 
berbahasa Arab? Karena, seseorang tidak dilahirkan dengan 
memiliki ilmu pengetahuan, melainkan dia harus belajar 
terlebih dahulu. 

Jadi, siapa pun orangnya, apakah dia orang Arab atau bukan, 
kalau mau belajar bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, 
pasti Allah SWT akan memberinya banyak kemudahan. 

Salah Tulis Surat 

Suatu hari, seorang juru tulis Abu Musa Al-Asy'ari menuliskan 
surat darinya kepada Umar ibnul Khattab r.a.: 

min Abu Musa Al-Asy'ari. . . . 

Umar membalas surat itu kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang 
isinya agar Abu Musa mecambuk sang juru tulis karena 
kesalahannya dalam menuliskan kalimat dalam bahasa Arab 
tersebut. Kalimat yang benar dalam kaidah Bahasa Arab 
adalah: 

min Abi Musa, bukan min Abu Musa. 

Kata "Abi", majrur pakai ya' karena didahului huruf jarr 
"min". 



Umar Marah 

Dalam kesempatan lain, Umar ibnul Khattab r.a. pernah 
melawati sekelompok orang yang sedang belajar memanah. 
Umar tidak memperlihatkan kekagumannya dengan cara 



116 %rus %u TAenjfiafaf Af- Quran 



memanah mereka, lalu Umar pun menegur mereka. Meraka 
pun menjawab : 

Inna Qoutnun mutdallimin. 

Mendengar kalimat tersebut, Umar pun sadar dan prihatin 
atas kesalahan kalimat 

Mengapa demikian? Karena, kalimat yang benar dalam 
Bahasa Arab 

Kata "muta'allimun" marfu' pakai wawu karena berkedudukan 
sebagi sifat 'khabar marfu', yaitu kata 'Qaum'. 

Lalu Umar berkata: "Demi Allah, kesalahan kalian dalam 
bertutur kata, bagiku lebih berbahaya dari pada kesalahan 
kalian dalam mengarahkan anak panah". 

Pernikahan Silang Arab dan Non-Arab 

Pada masa khilafah Bani Umayah, dakwah Islam tersebar 
secara lebih luas dan bercampurnya orang Arab dan non- 
Arab, juga terjadinya pernikahan silang antara orang Arab 
dan non-Arab. Mulai saat itulah terjadi banyak kesalahan 
dalam pengucapan bahasa Arab. Akibatnya, Khalifah Abdul 
Malik bin Marwan berkata: "Banyaknya orang yang berbicara 
di atas mimbar dan terjadinya kesalahan (dalam berbahasa 
Arab) membuat rambutku lebih cepat memutih". 

Kisah Putri Abul Aswad Al-Du'ali 

Bagi Anda yang sedang atau pernah belajar bahasa Arab 
dan sering mengalami kesalahan dalam pengucapan bahasa 
Arab, jangan sampai merasa pesimis apalagi putusasa dalam 
mempelajari bahasa Al-Quran ini. Ingat, orang Arab saja 
banyak yang salah berbahasa Arab! Jadi, wajar kalau pada 
awal-awal kita belajar kita sering salah dalam menyusun 
kalimat yang benar. 

Coba kita simak bersama kisah putri seorang peletak 
pertama ilmu Nahwu, salah seorang tabi'in, bernama Abul 
Aswad Al-Du'aliy. la pula yang memulai pengharakatan Al- 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 117 



Quran. Dalam suatu riwayat disebutkan, Ali bin Abi Thalib 
yang memerintahkan pengharakatan itu. Dalam riwayat lain, 
Umar ibnul Khattab yang memerintahkannya. 

Pada suatu malam, langit terlihat begitu indah dengan cahaya 
jutaan bintang yang menyinari bumi. Sang putri dalam kisah 
ini ingin mengungkapkan ketakjubannya. Dia berkata: 

(Maa ahsanussamaa) 

Huruf nun berharakat dhammah (marfu') yang artinya: 
"Langit, apanya yang paling indah?" . 

Maka ayahnya menjawab: "Wahai putriku, langit yang 
terindah adalah bintang-bintangnya". Sang putri pun berkata: 
"Aku tidak ingin bertanya mana yang paling indah, akan tetapi 
aku hanya ingin mengungkapkan kekagumanku". 

Sang ayah pun akhirnya berkata: "Kalau demikian maka 
katakanlah, 

(Maa ahsanassamaa) 

Huruf nun berharakat fathah (manshub) yang artinya 
"Alangkah indahnya langit ini!" 

Bahasa Ibu 

Bagi umat Islam, seharusnya bahasa Arab dijadikan bahasa 
Ibu, sekaligus bahasa nasional dan internasional yang dapat 
digunakan di mana saja, di mana pun kita bertemu Saudara 
seseiman dan seakidah. 

Seharusnya kita dapat berkomunikasi dengan bahasa Arab, 
bahasa Rasulullah SAW. Bahasa Arab itu mudah dan perlu 
dipelajari. 

Untuk memahami literatur Islam yang asli, yang tentunya 
semua berbahasa Arab, maka tidak ada cara lain, kecuali 
harus memahami bahasa Arab secara baik. Sungguh jauh 



118 %rm %u TAenjfiafaf ftf-Qu 



perbedaan antara orang yang paham bahasa Arab dengan 
yang tidak. Banyak karya dan peninggalan para ulama kita 
yang sampai saat ini belum diterjemahkan karena tebal dan 
berjilid-jilid. Semua karya mereka ini hanya dapat diakses 
dan dinikmati oleh mereka yang paham bahasa Arab dengan 
baik. 

Jadi, seperti orang yang ingin menaiki satu lantai di atasnya, 
maka dia harus melalui tangga atau lift. Maka, keberadaan 
tangga atau lift tersebut wajib. Demikian pula halnya dengan 
bahasa Arab, la adalah sarana dan alat dalam memahami 
Al-Quran dan Al-Sunnah, serta kitab-kitab dan karya-karya 
para ulama yang berbahasa Arab itu. Suatu kewajiban akan 
sempurna bila mana ada sarana penopangnya, maka sarana 
penopang tersebut keberadaanya menjadi wajib. 

Nah, sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: 
Sudah sejauh mana pemahaman bahasa Arab kita? Apakah 
tidak ada waktu untuk mempelajari dan memperdalamnya? 
Sibuk berdakwah, mengurusi ini dan itu? 

Semoga Allah SWT yang Mahaadil memudahkan kita yang 
mau bersungguh-sungguh dan mau meluangkan waktu 
khusus dalam mempelajari bahasa Arab, bahasa Kitab Suci- 
Nya. Amin! 

"Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, benar-benar 
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan 
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang 
berbuat baik" (Q.S. AI-Ankabut/29 : 69).* 



Ourus Oifu 'MenjdafafAf-duran 119 



120 Jurus %u TAenjfiafaf ftf-Qu